Kota Pekalongan (lingkarjateng.id) – Pemerintah Kota Pekalongan terus meningkatkan langkah preventif dan memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui edukasi masyarakat. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 28 kasus kekerasan telah ditangani.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Pekalongan, Sriyana, menyebut edukasi jadi langkah penting untuk menekan angka kekerasan serta memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam perlindungan perempuan dan anak.
“DPMPPA akan terus menggandeng berbagai organisasi perempuan agar pesan pencegahan dapat menjangkau lebih luas,” kata Sriyana di sela kegiatan Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Kekerasan Seksual di Hotel Howard Johnson, Selasa (2/6/2026).
Dia mengatakan bahwa pelatihan tersebut merupakan respons atas masih terjadinya kasus kekerasan di masyarakat.
“Karena masih banyak kasus yang terjadi terkait perempuan dan anak. Harapannya kegiatan ini dapat menekan berbagai permasalahan yang selama ini terjadi,” ungkapnya.
Menurutnya, peran keluarga, khususnya ibu, sangat penting dalam membangun komunikasi dengan anak guna mendeteksi potensi kekerasan sejak dini.
“Melalui pelatihan ini, peserta dapat menyampaikan pesan moral kepada lingkungan masing-masing, sehingga dapat mencegah berbagai bentuk kekerasan sejak dini,” tuturnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi dari berbagai narasumber. Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan pemahaman tentang penggunaan media sosial dan telepon genggam yang aman bagi anak, sementara Kasatreskrim memaparkan aspek hukum serta konsekuensi pidana bagi pelaku kekerasan seksual.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya, menegaskan bahwa persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi isu serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
“Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan besar bagi kita semua. Korbannya adalah perempuan dan anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan, tapi justru menjadi korban kekerasan,” tandasnya.
“Jika hal ini dibiarkan, tentu akan berdampak terhadap kualitas generasi masa depan,” imbuhnya.
Dia menilai, edukasi kepada masyarakat menjadi krusial karena banyak kasus melibatkan pelaku dari lingkungan terdekat korban. Oleh karena itu, peran orang tua dan lingkungan sangat dibutuhkan dalam pengawasan dan perlindungan anak.
Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan dapat terjadi di luar dugaan, bahkan melibatkan figur yang selama ini dianggap memiliki kedudukan terhormat. Karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan.
“Mudah-mudahan melalui pelatihan ini angka korban kekerasan dapat ditekan. Perlindungan terhadap perempuan dan anak membutuhkan sinergi semua pihak, tidak hanya orang tua, tetapi juga pendidik, masyarakat, dan pemerintah,” pungkasnya. ***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Fian































