Pekalongan (lingkarjateng.id) – Kirab 5.000 porsi Bubur Suro di Kelurahan Krapyak Kota Pekalongan menjadi penutup rangkaian Syafaat Festival 2026. Ribuan tangkir Bubur Suro tersebut ludes dibagikan kepada masyarakat hanya dalam waktu singkat, Minggu (12/7) malam.
Turut hadir dalam prosesi seremonial kirab Bubur Suro tersebut diantaranya Walikota Pekalongan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Forkopimda, tokoh masyarakat, serta pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid menyebut dari tahun ke tahun, Festival Bubur Suro mengalami perkembangan signifikan. Berawal hanya sederhana di lingkungan warga, kini berkembang menjadi agenda budaya yang menarik ribuan pengunjung hingga luar daerah.
Selain menjadi ajang pelestarian tradisi, festival juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan puluhan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Tahun ini sudah ada sekitar 70 stan UMKM yang ikut meramaikan festival. Antusiasme masyarakat juga luar biasa, bahkan pengunjung tidak hanya berasal dari Kota Pekalongan, tetapi juga dari berbagai daerah,” kata Aaf sapaan akrabnya.
Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk nyata menjaga sekaligus menghidupkan tradisi yang diwariskan masyarakat Krapyak.
Pemkot Pekalongan berencana mendorong Festival Bubur Suro agar dapat diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, sehingga memiliki perlindungan dan pengakuan yang lebih luas.
“Kita ingin tradisi ini terus dijaga. Ke depan, dengan dukungan masyarakat dan panitia, Festival Bubur Suro akan kita dorong menjadi warisan budaya tak benda,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal, Bimala, mengatakan Syafaat Festival merupakan agenda tahunan Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) yang menjadi bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta.
Tahun ini, BI Tegal kembali menggandeng Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan, namun memilih berkolaborasi dengan Festival Bubur Suro karena dinilai mampu mengangkat kekuatan budaya lokal yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
“Kami melihat Festival Bubur Suro ini sangat ramai dan sangat lokal. Potensi lokal seperti ini yang ingin kami angkat agar masyarakatnya sendiri merasa memiliki dan budaya daerah semakin dikenal,” ujarnya kepada awak media.
Menurut Bimala, kolaborasi tersebut tidak hanya menghadirkan festival budaya, tetapi juga memperkuat pengembangan ekonomi syariah melalui berbagai kegiatan, mulai bazar UMKM, edukasi transaksi digital, lomba hingga penggalangan wakaf produktif.
Salah satu capaian adalah penghimpunan dana wakaf yang mencapai sekitar Rp 68 juta. Dana itu akan dikelola bersama Masyarakat Ekonomi Syariah untuk mendukung program pembibitan varietas biosalin sebagai upaya pengembangan pertanian di kawasan pesisir Pekalongan.
“Alhamdulillah hingga hari ini penghimpunan wakaf sudah mencapai Rp 68 juta. Nilainya meningkat dibanding tahun lalu dan ini menjadi bukti tingginya kepedulian masyarakat,” tandasnya.***
Editor : Redaksi




























