KENDAL, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal bersama masyarakat melakukan gerakan pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) hama tikus di lahan pertanian Desa Tabet, Kecamatan Limbangan, Sabtu, 11 Juli 2026.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas keluhan petani mengenai meningkatnya serangan tikus yang mengancam produktivitas tanaman dalam kegiatan Bersatu Siaga (Bersih Desa Tampung Aspirasi Warga) di Desa Tabet.
“Dalam diskusi dengan para petani, mereka mengeluhkan serangan hama tikus yang populasinya sangat banyak dan berkembang biak dengan sangat cepat. Karena itu, kami langsung menindaklanjuti keluhan tersebut melalui gerakan pengendalian ini,” ujar Bupati yang akrab disapa Tika.
Menurutnya, pengendalian dilakukan menggunakan metode pengasapan atau emposan yang dinilai efektif untuk membasmi tikus di dalam sarang.
“Semoga cara ini bisa membantu para petani mengendalikan hama tikus yang selama ini menyerang tanaman mereka sehingga hasil panen dapat lebih optimal,” harapnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, menjelaskan gerakan pengendalian massal dilakukan pada wilayah yang mengalami serangan hama dengan intensitas tinggi dan berpotensi menurunkan hasil produksi pertanian.
Ia mengatakan bahwa sebelum menentukan metode penanganan, petugas terlebih dahulu melakukan pemantauan kondisi di lapangan untuk menilai tingkat serangan.
“Gerdal ini memang rutin kami lakukan di beberapa wilayah yang serangan hama tikusnya sudah signifikan dan berpotensi menurunkan hasil panen. Namun sebelumnya kami lakukan pengecekan terlebih dahulu apakah cukup dikendalikan dengan pestisida atau memang harus dilakukan gerakan pengendalian massal seperti ini,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, petugas menggunakan alat emposan dengan mengalirkan asap belerang ke lubang-lubang aktif yang menjadi sarang tikus. Setelah proses pengasapan dilakukan, setiap lubang ditutup rapat untuk mencegah hama keluar.
Pandu mengatakan, keberadaan hama tikus dapat menimbulkan kerugian besar bagi petani apabila tidak segera dikendalikan. Dalam kondisi serangan berat, kehilangan hasil panen bahkan dapat mencapai sekitar 80 persen.
“Karena dampaknya sangat besar terhadap produksi pertanian, pengendalian harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan agar populasi tikus dapat ditekan,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Rosyid



























