KENDAL, Lingkarjateng.id – Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menghadiri Halaqoh Pondok Pesantren dalam rangka Peringatan Hari Santri ke-12 Tahun 2026 bertema “Revitalisasi Nilai Resolusi Jihad dalam Konteks Bela Negara Modern” di Pendopo Tumenggung Bahurekso Kendal, Selasa 20 Oktober 2026.
Halaqoh tersebut menghadirkan Dr. KH. Achmad Roziqi, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Diskusi dipandu Ketua PCNU Kendal, KH. Mustamsikin, sebagai moderator.
Pada kesempatan itu, ia mengajak seluruh elemen pondok pesantren untuk terus memperkuat pendidikan keagamaan, membangun karakter generasi muda, serta menanamkan nilai-nilai bela negara dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Menurut Bupati, halaqoh yang mempertemukan pimpinan pondok pesantren dengan berbagai pemangku kepentingan tersebut untuk memperkuat sinergi sekaligus merespons dinamika perkembangan pendidikan pesantren di Kabupaten Kendal.
Ia menilai, pesantren saat ini terus berkembang dengan menghadirkan beragam program pendidikan. Tidak hanya pendidikan keagamaan, sejumlah pesantren juga menyelenggarakan pendidikan formal, mulai dari pendidikan diniyah, Ma’had Aly, perguruan tinggi umum, hingga program rintisan keterampilan dan kewirausahaan (entrepreneurship).
“Pemerintah Kabupaten Kendal berkomitmen untuk terus bersinergi dan mendukung program-program pengembangan pondok pesantren, seperti penguatan santripreneur dan pendidikan karakter pemuda,” ujarnya.
Bupati Tika juga mengajak para kiai, pengasuh pondok pesantren, dan santri untuk terus memperkuat pendidikan keagamaan serta menanamkan akidah yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Dengan sinergi yang kuat antara ulama, umara, dan seluruh elemen masyarakat, kita dapat bersama-sama menjaga kerukunan, memperkokoh persatuan, serta menciptakan Kabupaten Kendal yang aman, damai, dan sejahtera,” ungkap Bupati Tika.
Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada para pengasuh pondok pesantren dan santri atas kontribusi mereka dalam kehidupan sosial, keagamaan, serta pembangunan di Kabupaten Kendal.
Sementara itu, salah satu narasumber, Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Pengasuh Pondok Pesantren Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur menekankan pentingnya kejelasan sumber keilmuan bagi seorang santri.
Menurutnya, ilmu yang dimiliki santri harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menjelaskan, seorang santri memperoleh pengetahuan melalui proses pembelajaran dan bimbingan dari kiai, sehingga ilmu yang diamalkan tidak terlepas dari sanad dan tanggung jawab keilmuan.
“Seorang kiai berawal dari santri. Keilmuan seorang santri harus jelas. Apa yang dilakukan harus berdasarkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kiainya dan bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan di zaman modern ini masyarakat dapat menggunakan media sosial secara bijak dan benar agar bermanfaat.
“Bermedia sosial yang baik agar dapat manfaatnya,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Sekar




























