Pati (lingkarjateng.id) – Ratusan masyarakat dari berbagai elemean tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM, dan organisasi kemasyarakatan (ormas) berkumpul bersama dan menyerukan perdamaian di Alun-Alun Simpang Lima Pati pada Jumat (21/8) malam.
Kegiatan tersebut diisi dengan doa bersama, aksi menyalakan lilin, serta penandatanganan pernyataan sikap untuk menjaga Kabupaten Pati tetap aman dan kondusif.
Sedikitnya 22 LSM dan ormas turut terlibat dalam kegiatan yang mengusung semangat menjaga persatuan dan ketertiban di Kabupaten Pati.
Ketua panitia sekaligus pimpinan Lindu Aji Pati, Ahmad Sulaim Habibi atau kerap disapa Haji Boim mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keinginan bersama untuk menjaga suasana Pati tetap damai.
“Kami dalam kegiatan doa bersama, bareng-bareng untuk Pati yang kondusif. Tadi LSM dan ormas sekitar 22. Harapannya agar Pati kondusif. Ini tidak ada hubungannya dengan huru-hara yang ada di Pati. Kita niat tulus dari hati,” ujarnya.
Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan digelar untuk menyikapi ataupun merespons aksi tertentu yang sebelumnya berlangsung di Pati.
Menurutnya, kegiatan murni menjadi wadah bersama untuk mendoakan daerah agar terhindar dari konflik dan perpecahan.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, sejumlah elemen masyarakat menyatakan komitmen menjaga Kabupaten Pati sebagai rumah bersama yang aman, damai, kondusif, dan bermartabat.
Mereka juga menegaskan dukungan terhadap kebebasan menyampaikan pendapat yang dijamin konstitusi.

Namun, penyampaian aspirasi diharapkan tidak dilakukan dengan cara provokatif, intimidatif, anarkis, maupun tindakan yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.
Perwakilan PCNU Pati, Abdul Majid, mengatakan persoalan keamanan dan penegakan hukum hendaknya diserahkan kepada pihak yang memiliki kewenangan.
“Kalau masalah hukum kita berikan ke penegak hukum, masalah pembangunan kita serahkan kepada OPD, masalah perwakilan rakyat kita serahkan kepada dewan. Itu sudah baik,” katanya.
Menurut Abdul Majid, masyarakat juga diminta mengedepankan musyawarah dan mufakat dalam menyampaikan aspirasi.
Perbedaan pendapat, kata dia, merupakan bagian dari demokrasi, tetapi tidak semestinya berkembang menjadi konflik.
“Jadi aksi malam ini untuk menjaga perdamaian di Pati. Jangan sampai informasinya tidak baik. Kita juga menekankan untuk menyampaikan aspirasi secara musyawarah dan mufakat, ojo pokoke lah,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan ulama, Nur Qosyim atau Yi Qosyim, yang dipercaya memimpin pembacaan doa, berharap doa bersama tersebut menjadi ikhtiar masyarakat untuk menjaga ketenteraman daerah.
“Tadi saya diamanahi untuk pembacaan doa. Intinya supaya kondusif, Pati itu,” ungkapnya.***
Jurnalis : Fahtur Rohman
Editor : Redaksi






























