BLORA, Lingkarjateng.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blora melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi tambang galian C di Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora Kota, Kamis, 7 Mei 2026. Sidak tersebut menyusul adanya aduan warga terkait dugaan penyerobotan lahan untuk aktivitas penambangan.
Sidak dilakukan Ketua Komisi C DPRD Blora, M. Mukhlisin, bersama Wakil Ketua Komisi C DPRD Blora, Adiria. Keduanya turut didampingi sejumlah warga yang mengaku lahannya digunakan untuk aktivitas tambang tanpa persetujuan pemilik.
Dalam peninjauan tersebut, aktivitas penambangan masih terlihat berlangsung. Sejumlah alat berat jenis ekskavator dan dump truk tampak beroperasi di area tambang.
Mukhlisin mengatakan sidak dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat yang merasa dirugikan akibat eksplorasi lahan oleh perusahaan tambang.
“Kami menindaklanjuti aduan dari masyarakat. Terutama yang tanahnya merasa dieksplorasi oleh perusahaan yang tanpa izin, tanpa koordinasi dengan pemilik lahan,” ujar Mukhlisin.
“Makanya, yang pemilik lahan ini kan mengadukan minta dimediasi ke DPRD,” sambungnya.
Ia menjelaskan DPRD sebenarnya telah menjadwalkan pertemuan mediasi dengan sejumlah pihak terkait persoalan tambang tersebut, namun agenda itu ditunda karena salah satu pihak tidak dapat hadir.
“Hari ini harusnya kita mediasi semua, tetapi karena dari salah satu pihak tidak bisa hadir ya kita undur mungkin minggu depan,” terangnya.
Salah seorang warga, Ratno (46), mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat aktivitas tambang di lahannya seluas sekitar 5.000 meter persegi.
“Kira-kira ya Rp250 juta lah dirugikan,” ujar Ratno.
Menurutnya, kerugian tersebut berasal dari hilangnya sekitar 1.000 pohon jati yang sebelumnya tumbuh di lahan miliknya.
“Ya kecewa, karena pohon jatinya hilang semua,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Sri Astuti (58), pemilik lahan lainnya yang mengaku tanahnya ikut terdampak aktivitas penambangan.
Ia mengaku sebelumnya pernah ada tawaran pembelian lahan, namun ditolaknya karena lahan tersebut disiapkan sebagai investasi.
“Ya, merasa dirugikan. Nek dulu memang mau dibeli. Saya tidak mau memang, karena memang untuk invest ya. Jadi saya enggak mau dibeli gitu,” ujarnya.
Sri mengaku terkejut saat melihat kondisi lahannya yang kini berubah drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
“Saya sendiri kan tadinya enggak tahu. Lah, terus kok saya ke sini yang kemarin itu satu tahun itu masih biasa masih ada bukitnya itu. Terus ternyata kemarin kan saya ke sini lagi sudah merata ini,” terangnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid






























