PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dari biasanya mulai mengancam ketersediaan air bersih di Kabupaten Pekalongan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memetakan sedikitnya 10 kecamatan yang mencakup 39 desa dan kelurahan rawan terdampak kekeringan hingga perkiraan berakhirnya musim kemarau pada September mendatang.
Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Agus Pranoto, mengatakan dampak kemarau mulai terlihat dari menurunnya debit air di embung-embung desa hingga terganggunya pasokan air untuk kebutuhan pertanian.
“Mitigasi sudah kami lakukan dengan memetakan wilayah-wilayah rawan kekeringan. Saat ini ada 10 kecamatan yang terdiri atas 39 desa dan kelurahan yang menjadi prioritas penanganan,” ujar Agus saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 28 Juli 2026.
Agus mengatakan pihaknya telah menjadwalkan pendistribusian air bersih secara bergilir ke wilayah terdampak, sekaligus menyiapkan 18 unit tandon air yang akan ditempatkan di titik-titik yang paling membutuhkan.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air bersih serta menjauhi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan, seperti membakar sisa tebu maupun jerami padi.
Salah satu wilayah yang mulai merasakan dampaknya adalah Kelurahan Sragi.
Lurah Sragi, Teguh, melaporkan dalam dua pekan terakhir tiga dukuh mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Wilayah tersebut meliputi Dukuh Ringinpitu (126 KK/480 jiwa), Dukuh Pesantren (47 KK/141 jiwa), dan Dukuh Gembyong (65 KK/195 jiwa). Secara total ada 238 KK atau 816 jiwa yang kini terdampak.
Ia menyebut bantuan air bersih dari BPBD sebenarnya sudah diterima warga dalam sepekan terakhir, namun kebutuhan yang masih tinggi membuat pihaknya berharap adanya dukungan tambahan dari berbagai pihak.
“Kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau ini,” katanya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar


































