Blora (lingkarjateng.id) – Pohon tua di Blora bukan sekadar tanaman berusia puluhan hingga ratusan tahun. Di balik batang dan tajuknya, tersimpan cerita tentang sendang, tradisi, hingga kehidupan masyarakat yang kini mulai didokumentasikan agar tidak hilang ditelan zaman.
Hal itu terdokumentasikan dalam sebuah bingkai pameran foto 38 pohon tua di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang bernarasi Merti Kayon Blora 2026. Tak hanya menyajikan foto, namun juga mengungkap cerita dan nilai sejarah, budaya, serta ekologi yang melekat pada setiap pohon.
Bupati Blora Arief Rohman mengapresiasi upaya pendokumentasian pohon tua itu. Menurutnya, kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Blora perlu diperkenalkan lebih luas, termasuk kepada generasi muda melalui kegiatan literasi.
“Sekarang ada 38 pohon, ke depan bisa menjadi 99 pohon. Penambahannya bisa mencakup pohon beringin Sepuh di Kecamatan Kedungtuban, Jati Denok, dan pohon-pohon lainnya,” ujar Bupati Arief melalui keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026)
Dia berharap dokumentasi pohon-pohon tua tersebut dapat dibukukan dan dimanfaatkan sebagai bahan edukasi bagi masyarakat, khususnya pelajar dan santri. Selain mengenalkan kekayaan alam, upaya itu diharapkan membuka wawasan tentang sejarah dan potensi wisata edukasi di Blora.
Sementara itu, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Blora, Dalhar Muhammadun, mengatakan pendokumentasian diawali dengan inventarisasi partisipatif selama lebih dari sebulan.
Kegiatan itu melibatkan masyarakat untuk mendata pohon-pohon besar berusia lebih dari 100 tahun. Prosesnya tidak berhenti pada pengambilan gambar. Para peserta juga melakukan kerja jurnalistik dan literasi dengan menghimpun informasi serta menyusun narasi mengenai setiap pohon.
“Setiap pohon yang berusia lebih dari 100 tahun tentu menyimpan banyak cerita di baliknya,” ujarnya.
Dari hasil penelusuran tersebut, muncul beragam kisah mengenai keterkaitan pohon dengan sendang, sejarah setempat, kehidupan sosial, hingga kegiatan kebudayaan masyarakat. Sejumlah pohon juga berkaitan dengan cerita rakyat dan menjadi habitat berbagai makhluk hidup.

Bagi Lesbumi PCNU Blora, cerita-cerita tersebut menjadi bagian penting dari warisan lokal yang perlu dicatat. Sebab, informasi yang selama ini berkembang di tengah masyarakat berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dengan baik.
Dalhar mengatakan hasil pendokumentasian 38 pohon tersebut direncanakan dibukukan menjadi antologi pohon Blora. Buku itu nantinya memuat informasi, data, dan narasi yang berkaitan dengan sejarah maupun folklor atau cerita rakyat di sekitar pohon-pohon tua.
“Ke depan, karya-karya ini akan kita bukukan menjadi antologi pohon Blora. Di dalamnya ada informasi, data, dan narasi yang menjadi bagian dari upaya penyelamatan sejarah maupun folklor yang berpusat pada pohon-pohon tersebut,” katanya.
Dalam pameran bertema Merawat Pohon Kehidupan, Menjaga Warisan Alam itu, panitia juga memilih 10 pohon terbaik dari 38 foto beserta narasinya untuk mendapatkan apresiasi berdasarkan dokumentasi dan cerita yang disampaikan.
Sejumlah pohon yang didokumentasikan antara lain Beringin Tua di Situs Sigitan, Kecamatan Tunjungan; Pohon Wungu di Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo; serta Pohon Kepoh Sendang Mahbang dan Pohon Panggang Sendang Mahbang di Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon.
Ada pula Beringin Sepuh di Pasar Ketuwan, Kecamatan Kedungtuban; Pohon Trembesi dan Pohon Kepoh Sendhang Mojokulon di Kecamatan Banjarejo; Kesambi Sendhang Kaliuloh di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban; Kepuh Brumbung di Desa Gagaan, Kecamatan Kunduran; Pohon Bolu di Desa Galuk, Kecamatan Kedungtuban; serta Pule Kedung Prau di Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken.
Melalui Merti Kayon, pendokumentasian pohon-pohon tua di Blora diharapkan terus berlanjut. Tidak hanya untuk mengenali kekayaan alam, tetapi juga menjaga cerita, tradisi, dan jejak kehidupan masyarakat agar tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang. (ADV)***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Adi Arfian





























