Blora (lingkarjateng.id) – Miris, keselamatan puluhan siswa-siswi SDN 1 Tanjung Kecamatan Kedungtuban-Blora terancam di tengah kegiatan belajar mengajar (KBM, dengan ambrolnya atap plafon gedung sekolah.
Hal ini disebabkan kondisi fisik bangunan yang cukup memprihatinkan. Selain belajar di ruang sempit, disekat, para siswa juga dihantui rapuhnya atap yang terpaksa disangga oleh batang bambu.
“Sebelum tahun 2022, diawal saya bertugas di sini jumlah siswa sekitar 67, dan 1 ruang ada yang disekat. Ruang kelas dengan luas 6×7 meter, sehingga pembelajaran mereka itu sangat tidak kondusif. Gurunya saling bersahutan, sehingga anak-anak tidak konsentrasi belajar,” ujar Dewi, salah satu guru di SDN 1 Tanjung ditemui wartawan, Selasa (20/10).
Dewi menjelaskan, tahun 2023 mulai naik siswanya, sampai saat ini mencapai 84 siswa. Menurut Dewi, ukuran ruang kelas saat ini, jauh dari kata ideal. Sebab, ukuran ruang kelas seharusnya tujuh kali 8 meter (7m x 8m). Adapun sekolah yang dipimpinnya, memiliki dua gedung.
“Gedung A dengan dua ruangan berukuran 7×7 meter, dan Gedung B dengan empat ruangan berukuran 6×7 meter yang dinilai tidak pas untuk pembelajaran,” ungkap Dewi merinci.
Ia berujar, saat ini kondisi penyekatan semakin parah dengan adanya tiga ruangan yang disekat. Sebanyak dua ruangan untuk kelas dan gudang, serta satu ruangan untuk kelas dan ruang guru. Sehingga membuat suasana belajar menjadi sangat sesak.
Tak hanya sempit, keselamatan para siswa juga terancam oleh kondisi fisik bangunan yang lapuk. Salah satu bagian atap bangunan sekolah kini harus disangga menggunakan bambu agar tidak runtuh, sementara bagian atap lainnya juga sudah hampir runtuh.
Bahkan guru sempat swadaya membuat ruang untuk gudang peralatan olahraga. “Ini atapnya sudah disangga bambu sudah, yang satunya sudah juga mau jeblok. Itu belum disangga takutnya kondisi anak-anak itu ya mengkhawatirkan sekali,” beber Dewi.

Kondisi keterbatasan ini juga dirasakan oleh para guru yang tidak memiliki ruang kantor sendiri. Mereka terpaksa berada di kelas masing-masing, sementara ruang tamu terpaksa diletakkan di area luar.
Sedangkan sejumlah arsip-arsip penting milik guru, kepala sekolah, maupun administrasi juga terpaksa disimpan di dalam sekat khusus di dalam kelas agar tetap aman. Melihat kondisi sekolah yang semakin mengkhawatirkan, pihak tidak tinggal diam.
Sejak tahun 2022, pihak sekolah telah mengajukan usulan anggaran rehabilitasi ke Pemkab Blora. Namun gagal karena keterbatasan lahan dan dana APBD yang belum mampu.
“Karena keterbatasan lahan, kami mengusulkan agar bangunan ditinggikan. Namun, usulan tersebut belum terakomodasi hingga tahun 2025 ikut pengusulan revitalisasi, dan gagal lagi karena secara data tidak ada lahan, daerah juga kendala keterbatasan dana APBD,” ungkap Dewi.
Tahun 2026 ini, pihak sekolah kembali mengajukan usulan rehabilitasi. Masih belum berhasil. Bahkan, telah menyampaikan keluhannya kepada anggota DPRD Blora.
Pihak sekolah sangat berharap pemerintah segera memberikan perhatian dan merealisasikan bantuan perbaikan gedung dan penambahan gedung baru , agar para siswa dapat belajar aman dan nyaman.
Terpisah, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Sandy Tresna Hadi saat dikonfirmasi membenarkan jika kondisi bangunan SDN 1 Tanjung sangat memprihatinkan.
“Perpustakaan dan UKS yg belum tersedia, karena memang keterbatasan lahan. Apabila mendapatkan bantuan, lebih baik, bangunan baru diletakkan di lantai 2, dan lantai 1 nya direhab semua,” ujarnya.
Lebih lanjut Sandy menjelaskan dinas sudah berupaya mengajukan DAK sejak 2022 tapi selalu gagal untuk mendapatkan bantuan. “APBD Blora sangat terbatas, sehingga pihaknya berharap tahun depan bisa mendapatkan bantuan revitalisasi dari Kemendikdasmen,” pungkasnya. (Lingkar Network/Hanafi)***
Editor : Ady Arfian































