BATANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang berencana membangun rumah sakit baru di wilayah selatan untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di kawasan dataran tinggi. Saat ini, pemerintah daerah masih mencari lokasi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, dengan luas lahan minimal satu hektare.
Rencana tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengatasi keterbatasan fasilitas kesehatan sekaligus mengurangi kesenjangan akses layanan medis bagi warga di Kecamatan Reban, Bawang, dan Blado.
Pasalnya, masyarakat di kawasan tersebut selama ini harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk menjangkau rumah sakit di wilayah Limpung maupun pusat Kabupaten Batang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi, mengatakan keberadaan rumah sakit di wilayah selatan diperlukan untuk mempermudah masyarakat memperoleh pelayanan medis.
“Untuk Bawang, Blado, itu untuk mendapatkan akses rumah sakitnya kan jauh, ke Limpung atau ke Batang. Maka butuh satu rumah sakit untuk daerah atas,” katanya di Batang, Selasa, 20 Oktober 2026.
Menurut Ida, kebutuhan pembangunan rumah sakit baru juga berkaitan dengan kapasitas tempat tidur yang belum memenuhi standar rasio pelayanan kesehatan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Batang tahun 2025, rumah sakit yang beroperasi saat ini menyediakan 514 tempat tidur.
Sementara itu, dengan jumlah penduduk Kabupaten Batang yang telah melampaui 800 ribu jiwa, kebutuhan idealnya mencapai sedikitnya 800 tempat tidur. Dengan demikian, masih terdapat kekurangan sekitar 300 tempat tidur untuk memenuhi rasio minimal satu tempat tidur per 1.000 penduduk.
Ida menegaskan, pemenuhan rasio tersebut menjadi kebutuhan dasar dalam mendukung pelayanan rumah sakit bagi masyarakat.
“Kalau yang itu kan 1.000 penduduk satu bed. Tapi kalau lebih, misalnya bisa 1.000 penduduk dua bed, itu tentu lebih bagus juga. Paling tidak, satu tempat tidur untuk 1.000 penduduk,” katanya saat ditemui di kantornya, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, perhitungan kapasitas tersebut baru mencakup tempat tidur di rumah sakit yang telah beroperasi. Adapun potensi penambahan kapasitas dari pembangunan fasilitas kesehatan baru belum masuk dalam penghitungan itu.
Untuk merealisasikan rencana pembangunan rumah sakit di wilayah selatan, Pemkab Batang mulai menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Menurut Ida, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan juga telah menyampaikan aspirasi tersebut kepada Wakil Presiden saat kunjungan kerja.
“Pada saat kunjungan Wapres, Pak Bupati sekalian menyampaikan ke Pak Wapres. Beliau juga menyambut positif. Terus saya dan Pak Bupati juga menyampaikan ke Pak Kadinkes Provinsi, beliau juga menyambut positif,” ungkapnya.
Meski mendapat respons positif, pembangunan rumah sakit tersebut masih membutuhkan persiapan lebih lanjut. Salah satu pekerjaan utama yang sedang dilakukan pemerintah daerah adalah menemukan lahan yang memenuhi persyaratan teknis dan tata ruang.
Ida menyebut, sejumlah lokasi yang sempat dipertimbangkan belum dapat digunakan karena terkendala peruntukan lahan. Sebagian lokasi masuk kawasan hijau, sedangkan lokasi lain belum memenuhi kebutuhan pembangunan.
“Kalau untuk pastinya nanti bagaimana, kami belum tahu. Makanya ini masih berupaya untuk mencarikan lahannya dulu. Upaya pencarian lokasi pun tidak sepenuhnya mulus. Beberapa lokasi strategis yang sempat masuk radar ternyata berbenturan dengan tata ruang kawasan. Ada yang pas, tapi ternyata lahan hijau. Ada yang masih belum ketemu,” terangnya.
Pemkab Batang menargetkan ketersediaan lahan minimal satu hektare agar pembangunan rumah sakit dapat dilakukan secara memadai sekaligus memberikan ruang untuk pengembangan fasilitas pada masa mendatang. Luas lahan sekitar 1,5 hektare atau lebih dinilai akan memberikan keleluasaan yang lebih besar.
“Paling tidak satu hektare, lebih bagus lagi kalau 1,5 hektare atau lebih. Jadi untuk pengembangan ke depannya lebih gampang,” ujar Ida.
Selain mencari lahan, Pemkab Batang juga masih mematangkan sejumlah aspek perencanaan, mulai dari penentuan tipe rumah sakit hingga skema pembiayaan. Proses pengajuan resmi turut dipersiapkan sebagai bagian dari tahapan menuju realisasi pembangunan.
Editor: Muslichul Basid































