SALATIGA, Lingkarjateng.id – Kegiatan resik-resik kutho di Kota Salatiga tidak hanya menyasar kebersihan lingkungan. Pemkot Salatiga ingin momentum World Clean Up Day 2026 menjadi pemicu perubahan kebiasaan masyarakat, terutama dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah.
Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, mengatakan persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan kegiatan bersih-bersih. Masyarakat perlu membangun kebiasaan baru agar sampah yang dihasilkan bisa dikurangi dan dikelola dengan baik.
“Harapan kita tentu Salatiga bisa menjadi kota yang bersih dan bebas dari sampah. Untuk mewujudkannya, kita perlu mengubah kebiasaan, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi sampah yang kita hasilkan, hingga membiasakan diri memilah sampah dari rumah,” jelas Robby saat membuka kegiatan resik-resik kutho di komplek Pasarraya Salatiga, Jumat, 2 Oktober 2026.
Kegiatan bersih-bersih diawali apel bersama yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Salatiga. Peserta terdiri atas Wakil Wali Kota, jajaran Forkopimda, Ketua TP PKK Kota Salatiga, perangkat daerah, komunitas, hingga organisasi kepemudaan.
Selain membersihkan sejumlah kawasan, Pemkot Salatiga juga memasukkan edukasi dan praktik pengelolaan sampah dalam rangkaian World Clean Up Day 2026.
Upaya tersebut antara lain melalui pembuatan biopori dan sarana pengelolaan sampah organik, pemilahan sampah dari lingkungan terdekat, serta pelaksanaan Pekan Pengumpulan Sampah Spesifik.
Sementara itu, aksi resik-resik kutho menyasar empat titik di Kota Salatiga, meliputi kawasan Pasar Pagi, Pasar Ikan, Pasar Raya II, daerah Pancuran dan sepanjang Jalan Pahlawan.
Pemkot Salatiga berharap gerakan tersebut tidak berhenti setelah sampah di lokasi aksi dibersihkan. “Kebiasaan mengurangi sampah, memilah sampah, dan mengelola sampah organik diharapkan terus dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa
































