SALATIGA, Lingkarjateng.id – Tujuh jenis penyakit mengalami peningkatan di lingkungan masyarakat Kota Salatiga berdasarkan data pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) minggu ke-33 hingga minggu ke-36 tahun 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Salatiga, Prasit Al Hakim, mengungkapkan bahwa pada minggu ke-36 terdapat 24 penyakit yang dipantau melalui SKDR. Dari jumlah tersebut, tujuh penyakit menunjukkan tren peningkatan. Ketujuh penyakit itu yakni suspek diare akut, ISPA, suspek demam tifoid, pneumonia, suspek dengue, gigitan hewan penular rabies (GHPR), dan malaria.
“Perubahan tren ini menjadi perhatian kami. Pemantauan terus dilakukan untuk mengetahui sejak dini jika terjadi peningkatan kasus yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa,” kata Prasit, Minggu, 20 September 2026.
ISPA bersama diare akut, suspek demam tifoid, suspek dengue dan pneumonia juga masuk dalam lima besar kasus terbanyak yang dipantau DKK Salatiga. Prasit meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala penyakit, khususnya gangguan saluran pernapasan.
Prasit mengimbau agar kelompok rentan seperti balita, lansia dan penderita penyakit kronis perlu mendapat perhatian lebih.
Saat kondisi udara berdebu, masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker bila diperlukan serta tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
“Kalau mengalami gejala gangguan saluran pernapasan, segera periksakan diri. Jangan menunggu kondisi semakin berat,” tegasnya.
Selain ISPA, lanjut Prasit, masyarakat diminta mewaspadai diare dan demam tifoid dengan memastikan air minum aman, mengolah makanan secara higienis serta rutin mencuci tangan menggunakan sabun. Dinas Kesejahteraan Salatiga sendiri terus memperkuat pemantauan melalui SKDR. Laporan dari puskesmas dianalisis setiap pekan untuk melihat perubahan tren penyakit.
“Pemantauan tersebut dilakukan sebagai deteksi dini agar setiap kenaikan kasus dapat segera direspons dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa,” pungkasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa
































