KENDAL, Lingkarjateng.id – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) Desa Sriwulan, Kecamatan Limbangan, menjadi salah satu percontohan KDMP di Jawa Tengah yang mengembangkan budidaya ikan lele sistem bioflok tematik.
Program budidaya lele ini merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI untuk memperkuat ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi desa yang berkelanjutan sekaligus mendukung pasokan bahan pangan bergizi bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal, Hudi Sambodo mengatakan kebutuhan bahan pangan untuk program MBG tidak hanya telur dan ayam, tapi juga ikan sebagai sumber protein yang sangat dibutuhkan.
“Melalui bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, KDMP Sriwulan telah berhasil melaksanakan panen perdana budidaya lele sistem bioflok. Hasil panen ini langsung dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG,” ujar Hudi.
Ia menilai, hadirnya program MBG membuka peluang besar bagi pengembangan sektor perikanan di Kendal.
“Potensi budidaya ikan di Kendal masih sangat terbuka dan menjanjikan. Ini menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara Penyuluh Perikanan Kecamatan Limbangan sekaligus pendamping KDMP Desa Sriwulan, Azhari menjelaskan metode budidaya ikan lele sistem bioflok menggunakan teknologi rekayasa lingkungan dengan memanfaatkan mikroorganisme pengurai.
“Bakteri baik ini mengolah limbah kotoran dan sisa pakan menjadi gumpalan kecil (flok) yang kaya protein, sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh lele sebagai sumber pakan alami,” katanya.
Menurutnya, pemanfaatan flok dapat memangkas biaya pakan pabrikan hingga 20-30 persen.
“KDMP Sriwulan menjadi salah satu dari 100 KDMP di Jawa Tengah yang dipilih KKP untuk mengembangkan budidaya lele sistem bioflok tematik,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, hasil panen perdana budidaya ikan lele KDMP Sriwulan mencapai sekitar 2,3 ton ikan lele yang telah disetorkan ke dapur MBG dengan harga Rp19.500 per kilogram.
“Alhamdulillah, hasil budidaya di Kendal menjadi yang tertinggi di antara 100 KDMP penerima bantuan di Jawa Tengah. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan produksi,” katanya.
Azhari menjelaskan, bantuan dari KKP senilai sekitar Rp600 juta meliputi tiga paket kolam bioflok, di mana setiap paket terdiri atas delapan unit kolam berdiameter empat meter, sehingga total tersedia sekitar 20 kolam bundar berbahan terpal.
“Bantuan itu juga mencakup benih ikan, pakan, kerangka besi, serta sarana dan prasarana pendukung budidaya. Pihak KDMP menyediakan lahan desa, sumber air, dan listrik,” terangnya.
Meski demikian, ia menilai hasil panen perdana belum maksimal, sehingga pendampingan dan pembinaan akan terus dilakukan agar produktivitas budidaya semakin meningkat.
“Saat ini, tahap kedua budidaya telah dimulai dengan penebaran sekitar 70 ribu ekor benih lele. Harapan kami kedepan panennya bisa lebih bagus dan meningkat,” pungkasnya. (Adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Sekar





























