DEMAK, Lingkarjateng.id – Banjir rob kembali menggenangi sejumlah titik di Jalan Pantura Kabupaten Demak pada Kamis, 16 Juli 2026.
Genangan rob terlihat di depan PT Varia Usaha Beton, sisi timur Exit Tol Sayung, Bundaran Loireng, hingga depan PT Saniharto Enggalharjo. Ketinggian air bervariasi, namun kendaraan roda dua maupun roda empat masih dapat melintas.
Pantauan di lapangan menunjukkan lalu lintas di jalur Pantura tetap ramai dan lancar. Perlambatan hanya terjadi menjelang titik genangan karena sebagian pengendara memilih berpindah ke lajur kanan untuk menghindari rob.
Kanit Turjagwali Satlantas Polres Demak, Iptu Khoirul, mengatakan lokasi genangan rob mengalami perubahan dibandingkan beberapa waktu lalu yang terpusat di sekitar perbatasan Demak-Semarang.
Jika biasanya genangan terpusat di kawasan timur gapura perbatasan Demak-Semarang, kini titik rob bergeser ke wilayah timur Jembatan Sayung.
“Rob yang sekarang dari pagi terjadi di depan Varia Usaha Beton. Ke arah timur ada genangan setelah Exit Tol Sayung, kemudian di Bundaran Loireng dan depan PT Saniharto,” ujarnya.
Meski demikian, Iptu Khoirul menyebut kondisi lalu lintas di jalur nasional tersebut masih terkendali.
“Arus lalu lintas aman, hanya ada sedikit perlambatan yang masih tergolong wajar,” katanya.
Sementara itu, Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang, Wahyu Sri Mulyani, menjelaskan banjir rob di kawasan Pantura Jawa Tengah, khususnya Demak, dipicu oleh kombinasi beberapa faktor alam.
Menurutnya, pasang astronomis yang bertepatan dengan fase bulan purnama menjadi salah satu penyebab utama. Fenomena Strawberry Moon yang terjadi pada akhir Juni dinilai masih memberikan pengaruh terhadap kenaikan muka air laut pada awal Juli.
“Pasang astronomis ditambah bulan purnama pada Bulan Juli sering terjadi pasang purnama pada bulan lalu tepatnya pada tanggal 29 Juni terjadi fenomena Strawberry Moon efek gravitasinya masih terasa sampai awal Juli, pasang jadi lebih tinggi dari biasa,” jelasnya.
Selain itu, angin timuran yang menguat pada musim kemarau mendorong massa air laut ke wilayah Pantura sehingga meningkatkan tinggi muka air di kawasan pesisir. Kondisi tersebut diperparah oleh gelombang laut yang lebih tinggi akibat pengaruh angin dan tekanan udara.
“Gelombang tinggi. Tekanan udara ditambah angin laut berdampak pada gelombang masuk lebih jauh ke darat,” lanjutnya.
Wahyu menambahkan, penurunan muka tanah yang masih terjadi di kawasan pesisir Demak juga menjadi faktor yang memperbesar risiko banjir rob.
Berdasarkan sejumlah kajian, laju penurunan tanah di wilayah tersebut mencapai sekitar 5 hingga 15 sentimeter setiap tahun akibat pengambilan air tanah secara berlebihan.
“Demak termasuk daerah yang tanahnya turun 5-15 cm per tahun karena pengambilan air tanah berlebih. Jadi daratannya makin rendah air laut makin mudah masuk ke daratan,” ungkapnya.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di kawasan pesisir dan pengguna Jalan Pantura, tetap mewaspadai potensi rob karena berdasarkan data historis, pasang air laut pada Juli cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.
“Berdasarkan historis data pada Bulan Juli ini pasang lebih tinggi dari bulan-bulan lainnya,” pungkasnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid






























