BLORA, Lingkarjateng.id – Sumur minyak rakyat di Desa Plantungan, Kecamatan Blora, mencatat nilai transaksi sekitar Rp2,8 miliar selama Juni 2026. Capaian tersebut berasal dari produksi sekitar 380 ribu liter minyak yang dikelola di bawah naungan Koperasi Blora Migas Energi (BME).
Ketua Koperasi BME, Sutrisno, mengatakan produksi minyak dari Desa Plantungan menjadi kontributor utama transaksi yang saat ini telah berjalan. Rata-rata produksi di wilayah tersebut mencapai sekitar 15 ribu liter per hari.
“Untuk saat ini transaksi baru berasal dari Desa Plantungan. Pada Juni lalu nilai transaksinya mencapai sekitar Rp2,8 miliar dengan total produksi kurang lebih 380 ribu liter,” ujar Sutrisno, Kamis, 16 Juli 2026.
Ia menjelaskan, dalam paruh pertama bulan berjalan, Desa Plantungan telah menghasilkan sekitar 175 ribu liter minyak dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,4 miliar. Saat ini, pengajuan pencairan tahap kedua masih dalam proses.
Di sisi lain, potensi produksi minyak rakyat di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Blora dinilai cukup besar. Namun, masih terdapat kendala teknis yang membuat hasil produksi belum dapat dipasarkan ke Pertamina.
Sutrisno mengatakan ada kendala yang terjadi di Desa Ngiyono, Kecamatan Japah. Menurutnya, kandungan air dalam minyak yang masih tinggi membuat hasil produksi belum memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan.
“Sebenarnya potensi produksinya cukup melimpah, namun kadar airnya masih belum memenuhi standar,” bebernya.
Sementara itu, produksi minyak di Desa Botoreco, Kecamatan Kunduran, telah memenuhi standar kualitas. Meski demikian, Sutrisno menyebut volumenya belum mencapai batas minimal pengiriman sebesar 5.000 liter sehingga distribusi ke Pertamina masih tertunda.
“Saat ini sumbernya masih tersendat. Produksinya baru sekitar 4.000 liter, sedangkan syarat minimal pengiriman 5.000 liter,” katanya.
Perkembangan positif juga terjadi di Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen. Sutrisno mengatakan bahwa setelah dilakukan perbaikan pada salah satu sumur, produktivitas mulai meningkat dengan hasil sekitar dua bul dalam kurun lima hari.
“Capaian tersebut menjadi sinyal positif guna meningkatnya produktivitas sumur di wilayah tersebut,” ujarnya.
Sutrisno menambahkan, kerja sama antara Koperasi BME dengan Pertamina hingga kini berjalan baik. Pengajuan pencairan tahap kedua telah disampaikan, sementara harga beli minyak untuk periode Juli ditetapkan sebesar Rp7.498 per liter.
“Sementara harga beli minyak untuk periode Juli ditetapkan sebesar Rp7.498 per liter,” tambahnya.
Saat ini, Koperasi BME menaungi sekitar 1.600 titik sumur minyak rakyat yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Blora, antara lain Desa Plantungan di Kecamatan Blora, Desa Talokwohmojo dan Karangtengah di Kecamatan Ngawen, Desa Plosorejo dan Botoreco di Kecamatan Kunduran, serta Desa Ngiyono di Kecamatan Japah.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid






























