DEMAK, Lingkarjateng.id – Bupati Demak, Eisti’anah, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melestarikan sejarah dan warisan budaya Kasultanan Demak sebagai bagian penting dari identitas daerah sekaligus warisan peradaban Islam di Nusantara.
Menurutnya, Kabupaten Demak memiliki posisi istimewa dalam sejarah bangsa karena menjadi pusat berdirinya Kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa.
Ia menilai keberadaan Kasultanan Demak tidak hanya berperan dalam penyebaran agama Islam, tetapi juga menjadi tonggak perkembangan kebudayaan dan pembentukan karakter masyarakat Nusantara.
“Sejarah Kasultanan Demak bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi merupakan sumber inspirasi yang mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan, persatuan, toleransi, gotong royong, semangat dakwah, serta kecintaan terhadap tanah air,” kata Bupati Eisti’anah dalam kegiatan Bedah Buku Sejarah Kasultanan Demak bertema “Menggali Nilai Historis Demak-Bintoro, Meneguhkan Sinergi Permuseuman AMIDA Pakudjembaran” yang digelar di Demak, Rabu, 8 Juli 2026.
Ia menilai kegiatan bedah buku tersebut menjadi momentum penting untuk menggali kembali nilai-nilai luhur sejarah Demak sekaligus memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi, literasi sejarah, penelitian, dan destinasi wisata budaya yang mampu menarik minat generasi muda.
Eisti’anah menegaskan, Pemerintah Kabupaten Demak terus berkomitmen mendukung berbagai upaya pelestarian sejarah melalui penguatan kelembagaan, pengembangan literasi sejarah, digitalisasi arsip dan koleksi, serta kolaborasi dengan akademisi, komunitas sejarah, pengelola museum, dunia pendidikan, ulama, dan berbagai elemen masyarakat.
“Pelestarian sejarah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Diperlukan keterlibatan seluruh pihak agar warisan Kasultanan Demak tetap lestari dan mampu memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, ia berharap lahir berbagai gagasan konstruktif yang dapat memperkuat identitas Kabupaten Demak sebagai pusat peradaban Islam yang maju dan berpengaruh.
Selain itu, bedah buku sejarah diharapkan dapat memperkaya khazanah pengetahuan masyarakat, meluruskan berbagai perspektif sejarah berdasarkan kajian ilmiah, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap jati diri daerah.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan sejarah sebagai guru kehidupan. Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan para Sultan Demak, para Wali, dan ulama perlu terus diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Kami berharap bedah buku ini menghasilkan rekomendasi serta langkah nyata untuk memperkuat pelestarian sejarah Kasultanan Demak dan meningkatkan peran museum sebagai pusat edukasi masyarakat,” pungkasnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid






























