PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Kenaikan harga kedelai impor hingga mencapai Rp11.000 per kilogram berdampak signifikan terhadap perajin tempe dan tahu di Kabupaten Pekalongan. Kondisi ini memaksa pelaku usaha mengurangi produksi dan menghadapi penurunan pendapatan.
Salah satu perajin di Pasar Tradisional Wiradesa, Haryanto, mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan baku sangat memberatkan usaha yang dijalaninya.
“Saat ini harga kedelai impor sudah naik sampai Rp11.000 per kilogram, dan itu sangat memukul usaha kami,” ujarnya, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menyebutkan, kenaikan biaya produksi berimbas langsung pada pendapatan yang turun hingga sekitar 30 persen. Selain itu, jumlah pembeli juga mengalami penurunan.
“Pendapatan kami turun sekitar 30 persen karena biaya produksi naik, sementara pembeli juga berkurang,” tambahnya.
Untuk menekan kerugian, para perajin terpaksa mengurangi kapasitas produksi. Dari sebelumnya mampu mengolah sekitar 80 kilogram kedelai per hari, kini hanya berkisar 50 kilogram. Upaya penyesuaian juga dilakukan, seperti mengubah ukuran tempe, namun tidak selalu efektif.
“Ada yang mencoba mengubah ukuran tempe supaya bisa menyesuaikan biaya, tapi justru banyak pelanggan yang tidak jadi membeli,” jelasnya.
Meski demikian, sebagian perajin memilih tidak mengurangi ukuran tahu. Namun, langkah tersebut belum mampu menahan penurunan jumlah pembeli. Saat ini, para pelaku usaha mengaku hanya bisa bertahan sambil menunggu kebijakan dari pemerintah.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Pekalongan, Siti Masruroh menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal. Di antaranya adalah harga kedelai di pasar global serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Dampaknya sudah dirasakan langsung oleh pelaku UMKM, khususnya perajin tempe dan tahu di pasar tradisional,” kata Masruroh.
Pihaknya menegaskan, pemerintah akan terus berupaya mengambil langkah agar kondisi tersebut tidak berlangsung lama.
“Pemerintah akan terus berupaya mengambil langkah agar kondisi ini tidak berkepanjangan,” katanya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar































