REMBANG, Lingkarjateng.id – Setelah sempat terdampak berhentinya produksi gas dari Sumur Krikilan, PT Rembang Migas Energi (RME) kini mulai bangkit dengan mengembangkan bisnis perdagangan Compressed Natural Gas (CNG).
Langkah tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Rembang sebagai upaya memperkuat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kebangkitan PT RME ditandai dengan peluncuran penggunaan CNG di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dorokandang, Kecamatan Lasem. Program tersebut menjadi tonggak awal transformasi bisnis perusahaan daerah yang selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan aktivitas usaha.
Direktur PT RME, Rizal Wijaya, mengatakan pengembangan pasar CNG menjadi fokus utama perusahaan karena dinilai memiliki prospek yang menjanjikan. Selain mendukung kebutuhan energi yang lebih efisien, sektor tersebut juga diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi perusahaan.
PT RME menargetkan sedikitnya 50 persen dari total SPPG atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Rembang dapat menggunakan CNG yang dipasok perusahaan.
“Jika target tersebut tercapai, insya Allah dalam satu tahun ke depan PT RME sudah bisa memberikan deviden untuk daerah,” ujar Rizal, Kamis, 4 Juni 2026.
Alternatif LPG 3 Kg, SPPG di Rembang Mulai Gunakan CNG Untuk Program MBG
Tak hanya menyasar dapur MBG, PT RME juga mulai membidik pasar yang lebih luas. Perusahaan berencana menawarkan penggunaan CNG kepada sektor Industri Kecil Menengah (IKM), hotel, restoran, rumah makan, hingga berbagai pelaku usaha kuliner di Kabupaten Rembang dan sekitarnya.
Menurut Rizal, perluasan pasar tersebut menjadi strategi penting agar perusahaan memiliki basis pelanggan yang kuat dan berkelanjutan.
Pemkab Rembang Sambut Langkah Positif PT RME
Sementara itu, Wakil Bupati Rembang menyambut positif langkah PT RME yang kembali aktif menjalankan usaha. Ia menilai pengembangan bisnis CNG menjadi jawaban atas harapan masyarakat agar BUMD mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah.
“Bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat, BUMD kok nggak ngasih deviden. Lhah ini mau jualan CNG,” katanya.
Pihaknya juga berharap pengembangan usaha yang dilakukan PT RME berjalan sesuai rencana sehingga mampu mengembalikan performa perusahaan sekaligus memperkuat peran BUMD sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
“Kami berharap langkah ini menjadi titik balik kebangkitan PT RME. Jika pasar CNG berkembang sesuai target, bukan hanya perusahaan yang tumbuh sehat, tetapi daerah juga akan merasakan manfaatnya melalui peningkatan kontribusi terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Sebagai informasi, PT RME merupakan BUMD milik Pemkab Rembang yang sebelumnya mengelola potensi gas bumi di wilayah Kecamatan Sumber. Namun, sejak produksi gas dari Sumur Krikilan tidak lagi beroperasi dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas usaha perusahaan ikut terdampak.
Melalui pengembangan bisnis CNG, PT RME kini berupaya membuka lembaran baru. Tidak hanya menghidupkan kembali roda usaha perusahaan, langkah tersebut juga diharapkan mampu memperluas pemanfaatan energi gas yang lebih efisien sekaligus menghadirkan sumber PAD baru bagi Kabupaten Rembang.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Sekar































