SEMARANG, Lingkarjateng.id – Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang, terus menunjukkan perkembangan menuju tahap realisasi.
Proyek strategis yang diharapkan menjadi solusi pengelolaan sampah di kawasan Semarang Raya tersebut kini memasuki fase finalisasi dokumen lelang dan penjajakan investor oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Minat investor terhadap proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun itu terbilang tinggi. Dari hasil market sounding yang dilakukan Danantara, sekitar 80 investor menyatakan ketertarikan untuk berpartisipasi dalam pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Glory Nasarani, mengatakan pemerintah daerah hanya berperan sebagai pendukung dalam penyediaan data dan kebutuhan teknis yang diperlukan dalam proses yang sepenuhnya dikelola Danantara.
“Untuk PSEL ini semuanya dilaksanakan oleh Danantara. Tugas kami adalah menyiapkan apa yang dibutuhkan, mulai dari dokumen kajian, dokumen lelang, dokumen perencanaan hingga data-data teknis yang diperlukan,” ujar Glory.
Ia menjelaskan, saat ini Danantara tengah menyelesaikan berbagai dokumen penting sebagai persiapan lelang proyek. Selain itu, investor yang telah menyatakan minat juga dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan dalam waktu dekat.
“Saat ini prosesnya persiapan dokumen lelang, finalisasi kajian, kemudian dari para peminat juga ada rencana untuk site visit,” katanya.
Glory menegaskan seluruh komunikasi dengan investor, termasuk jadwal kunjungan dan tahapan investasi, berada di bawah kewenangan Danantara. Pemerintah Kota Semarang hanya bertindak sebagai fasilitator sesuai arahan pemerintah pusat.
“Dari hasil market sounding, sudah ada sekitar 80 investor yang berminat. Kemungkinan pada awal bulan ini mereka akan melakukan site visit. Kami hanya bertugas memfasilitasi karena seluruh jadwal dan prosesnya sudah diatur oleh Danantara,” paparnya.
Ia menambahkan, seluruh pintu masuk bagi investor yang tertarik pada proyek tersebut juga melalui Danantara, sementara Pemkot Semarang menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah pusat terkait peran daerah dalam proses lanjutan.
“Pintu masuknya semuanya dari Danantara. Kami nanti menunggu arahan dari pusat terkait apa saja yang harus disiapkan dan dilakukan oleh daerah,” jelasnya.
Proyek PSEL ini dirancang untuk melayani kawasan Semarang Raya yang mencakup Kota Semarang dan Kabupaten Kendal dengan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Glory menyebut kehadiran PSEL menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya volume sampah setiap tahun. Selain mengurangi ketergantungan pada sistem penimbunan di TPA, proyek ini juga diharapkan mampu menghasilkan energi listrik dari pengolahan sampah.
Ia berharap proyek tersebut dapat segera direalisasikan sebagai bagian dari inovasi pengelolaan sampah perkotaan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Terkait teknologi yang akan digunakan, Glory menyebut keputusan akhir masih menunggu hasil kajian Danantara. Namun, teknologi termal disebut menjadi opsi paling memungkinkan karena dinilai efektif mengurangi volume sampah dengan cepat.
“Konsepnya teknologi ramah lingkungan. Teknologinya apa nanti berdasarkan kajian dari Danantara. Tapi kemungkinan besar memang teknologi termal karena yang paling cepat menghabiskan sampah saat ini teknologi termal,” katanya.
Teknologi termal sendiri mencakup berbagai metode seperti insinerator, pirolisis, hingga plasma yang memanfaatkan panas untuk mengubah sampah menjadi energi listrik.
“Kalau tidak salah, informasi terakhir dari Danantara, nilai investasi atau anggaran untuk pembangunan PSEL sekitar Rp3 triliun,” pungkasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid





























