Semarang (lingkarjateng.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus melakukan evaluasi terhadap pengembangan desa wisata di tengah tantangan modernisasi dan menurunnya ketertarikan generasi muda terhadap budaya lokal.
Saat ini, terdapat 13 desa wisata yang tersebar di Kota Semarang dengan karakter dan potensi berbeda-beda. Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, tidak semua desa wisata berkembang dalam level yang sama.
Sebagian sudah masuk kategori desa wisata berkelanjutan, namun sebagian lainnya masih perlu didorong agar lebih aktif dan produktif.
“Desa wisata saat ini di Kota Semarang jumlahnya ada 13. Memang perlu kita lakukan evaluasi kembali. Ada desa wisata yang sudah cukup maju, bahkan sudah masuk kategori desa wisata berkelanjutan,” ujarnya, Rabu (20/5).
Namun demikian, ia mengakui masih banyak desa wisata yang membutuhkan penguatan, baik dari sisi pengelolaan, aktivitas wisata, hingga keterlibatan masyarakat.
“Tetapi masih banyak juga desa wisata yang perlu kita gerakkan kembali. Sekarang juga kita mulai lagi melakukan beberapa pembinaan supaya desa wisata ini bisa berkembang,” lanjutnya.
Menurut Indriyasari, konsep yang dikembangkan dalam desa wisata di Semarang saat ini mengarah pada pariwisata berkelanjutan dengan mengedepankan potensi alam dan kearifan lokal masing-masing wilayah.
“Mereka menonjolkan kekuatan alami dan juga potensi-potensi di wilayahnya masing-masing. Jadi setiap desa punya keunikan sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan, wisatawan tidak hanya datang menikmati pemandangan, tetapi juga dilibatkan langsung dalam aktivitas masyarakat sehari-hari yang menjadi daya tarik utama desa wisata.
“Aktivitasnya cukup menarik. Ada yang bercocok tanam di sawah, ada yang mengolah hasil alam, kemudian ada juga yang menyusuri sungai dan sebagainya,” jelasnya.
Selain kekuatan alam, unsur budaya dan kuliner lokal juga menjadi identitas penting dalam pengembangan desa wisata di Semarang. “Masing-masing punya keunikan, baik dari sisi tempatnya, atraksi, makanan khasnya, kulinernya juga cukup menarik,” ujarnya.
Ia menambahkan, hampir seluruh desa wisata memiliki kekuatan seni budaya yang dikemas melalui cerita sejarah atau storytelling khas masing-masing daerah.
“Sebetulnya semuanya memiliki unsur budaya. Ada histori budaya dan storytelling yang tidak bisa kita tinggalkan,” katanya.
Salah satu yang cukup dikenal yakni tradisi budaya di kawasan Goa Kreo melalui pertunjukan Mahakarya Legenda Buah Kreo dan Sesaji Rewanda. “Ada Sesaji Rewanda yang kemudian dirangkai dengan Mahakarya Legenda Buah Kreo. Itu menjadi salah satu atraksi budaya yang cukup kuat,” jelasnya.
Pertunjukan tersebut digelar rutin dan menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat setempat. “Legenda Buah Kreo memang dipertunjukkan satu tahun sekali, tetapi ada atraksi-atraksi lain yang juga rutin dilakukan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata mengakui perkembangan teknologi dan media sosial menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga eksistensi budaya lokal, terutama di kalangan generasi muda.
“Tantangan terbesar saat ini memang bagaimana mengajak generasi muda kembali peduli terhadap seni budaya lokal,” katanya.
Menurutnya, pengaruh budaya luar yang begitu mudah masuk melalui media sosial membuat sebagian generasi muda mulai menjauh dari budaya daerahnya sendiri. “Banyak pengaruh dari luar, dari media sosial dan sebagainya. Tentunya itu sangat berpengaruh,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya terus mendorong keterlibatan anak muda dalam berbagai kegiatan budaya dan pengembangan desa wisata.
“Kami mengajak generasi muda untuk kembali mempelajari budaya lokal, karena sebenarnya potensi itulah yang akan mengangkat desa wisata dan ekonomi masyarakat,” tegas Indriyasari.
Meski menghadapi tantangan modernisasi, ia menilai inovasi tetap diperlukan agar pertunjukan budaya mampu diterima generasi sekarang tanpa kehilangan nilai aslinya.***
Jurnalis : Syahril Muadz
Editor : Fian































