REMBANG, Lingkarjateng.id – Aktivitas di Pelabuhan Perikanan Tasikagung, Kabupaten Rembang, sempat lesu akibat tingginya harga solar industri. Ratusan kapal nelayan sebelumnya memilih sandar dan tidak melaut hampir selama sebulan terakhir.
Pantauan di lokasi, ratusan kapal terlihat berjajar di pelabuhan. Para anak buah kapal (ABK) tampak memperbaiki kapal dan alat tangkap, sementara aktivitas bongkar ikan dan tempat pelelangan ikan (TPI) terlihat sepi.
Informasi di lapangan, lelang ikan hanya berlangsung pada pagi hari dan sekitar pukul 11.00 WIB sudah selesai. Warung-warung di sekitar pelabuhan juga banyak yang tutup karena aktivitas nelayan berkurang drastis.
Seorang juru mudi kapal asal Desa Pasarbanggi, Suwartono mengatakan mayoritas kapal di Tasikagung berukuran di atas 30 Gross Ton (GT), sehingga harus menggunakan solar industri dan tidak lagi mendapat solar subsidi.
“Kapal-kapal di sini kebanyakan 30 GT ke atas. Kalau 30 GT ke bawah boleh pakai solar subsidi. Di atasnya sudah tidak boleh, harus pakai solar industri. Sekarang ini di Tasikagung ada sekitar 600-an kapal mogok,” ujar Suwartono.
Ia mengatakan, satu kali melaut biasanya berlangsung hingga 26 hari. Dalam sekali perjalanan, dirinya bisa mendapat bagi hasil Rp 5 juta hingga Rp 8 juta.
“Ini semenjak kenaikan solar belum berangkat lagi,” katanya Rabu, 20 Mei 2026.
Menurutnya, harga solar industri sempat melonjak tajam. Saat bulan puasa, harga solar masih sekitar Rp 10.500 per liter, lalu naik hingga Rp 18.600 sebelum perlahan turun.
“Sekarang sekitar Rp 14.500 per liter. Kapal yang saya pakai ini 62 GT, jadi harus pakai solar industri,” jelasnya.
Meski banyak kapal berhenti melaut, harga ikan justru mengalami kenaikan karena stok di pasaran menipis. Harga ikan demang misalnya, kini mencapai Rp 12 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 8-9 ribu.
Sementara ikan kuniran naik menjadi Rp 10 ribu per kilogram dari biasanya Rp 4-6 ribu. Sedangkan cumi-cumi dijual Rp 40 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram tergantung ukuran.
“Kapal sini kebanyakan berangkat ke perairan Bawean sama Masalembu. Sekali perjalanan pulang-pergi kapal saya butuh sekitar 9 ribu liter solar,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan Mad Ikhsan, motoris kapal asal Desa Tritunggal. Ia mengaku sudah hampir sebulan tidak melaut akibat kenaikan harga BBM.
“Pendapatan biasanya Rp 3 juta sekali berangkat. Hampir sebulan ini belum melaut lagi gara-gara harga solar naik. Sekarang ya cuma memperbaiki kapal-kapal saja,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Nelayan Jaring Tarik Berkantong (JTB) Bhaita Adhiguna Rembang, Maksum mengatakan masih ada sebagian nelayan yang tetap melaut.
“Sekitar 40 persen masih melaut, 60 persen memilih libur dulu. Kita masih menunggu keputusan pemerintah terkait harga solar khusus nelayan,” ujar Maksum.
Ia menyebut pihak nelayan sebelumnya telah melakukan audiensi dengan DPRD Rembang untuk meminta penetapan harga solar khusus nelayan. Saat ini, pihaknya masih menunggu koordinasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Kementerian ESDM.
Nelayan Dapat Suplai BBM Non Subsidi
Di sisi lain, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang menyebut kondisi nelayan mulai berangsur membaik setelah adanya pasokan BBM non subsidi dengan harga lebih rendah.
Sekretaris Dinlutkan Rembang, Nurida Andante mengatakan kapal-kapal JTB di Tasikagung mulai kembali melaut karena mendapat suplai BBM dari PT Indah Raya Santosa dengan harga Rp 14.700 per liter.
“Nelayan yang memakai BBM non subsidi sekarang sudah terfasilitasi oleh supplier PT Indah Raya Santosa dengan harga Rp 14.700 per liter. Pantauan kami, kapal-kapal sudah mulai ada yang berangkat melaut,” kata Nurida.
Menurutnya, harga tersebut masih lebih terjangkau dibanding sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 18 ribu hingga Rp 23 ribu per liter.
“Meskipun tetap ada penambahan biaya operasional, tapi ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya saat harga terus naik,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Sekar































