Jepara (lingkarjateng.id) – Memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dipastikan tidak berdampak pada pelaksanaan ibadah haji tahun 2026. Calon jemaah haji Jepara dapat berangkat sesuai jadwal tanpa ada kenaikan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH).
Kepastian itu disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, H. Abdul Wachid, saat membuka kegiatan Manasik Haji Terintegrasi di Gedung Haji Kabupaten Jepara, pada Kamis (9/4/2026). Kegiatan ini diikuti sebanyak 1.547 calon jemaah haji (CJH) dari berbagai kecamatan di Jepara.
Abdul Wachid menegaskan bahwa, situasi geopolitik di Timur Tengah tidak mengganggu penyelenggaraan haji yang telah dipersiapkan secara matang oleh pemerintah.
“Ibadah haji tetap berjalan lancar dan aman. Jadi para jemaah tidak perlu khawatir dengan kondisi konflik yang sedang terjadi,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa lonjakan biaya avtur akibat terganggunya pasokan minyak global tidak akan dibebankan kepada jemaah. Pemerintah, lanjutnya, telah mengambil langkah agar biaya haji tetap stabil.
“Tambahan biaya avtur yang bisa mencapai Rp7-8 juta per jemaah tidak dibebankan. Presiden sudah menegaskan agar jemaah tidak terbebani,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan komitmen pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan maksimal bagi jemaah.
“Pemerintah Kabupaten Jepara berkomitmen penuh mendukung kelancaran dan kenyamanan jemaah haji, mulai dari persiapan hingga kepulangan,” kata mas Wiwit sapaan akrab Bupati.

Ia menambahkan, Jepara saat ini menempati peringkat ketiga jumlah jemaah terbanyak di Jawa Tengah, sekaligus mencatat sejarah sebagai bagian dari penyelenggaraan haji di bawah Kementerian Haji dan Umrah.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Jepara menyediakan fasilitas transportasi bus menuju Asrama Haji Donohudan, konsumsi selama perjalanan, hingga layanan distribusi koper jemaah.
“Harapannya, seluruh jemaah bisa berangkat dengan tenang dan fokus menjalankan ibadah dengan khusyuk,” tandasnya.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Jepara, Siti Zuliati, menambahkan total peserta manasik terdiri dari 1.433 jemaah reguler, 6 pembimbing KBIHU, dan 8 petugas haji daerah. Seluruhnya telah melunasi biaya haji.
“Total ada 1.547 peserta dari 16 kecamatan. Ini menunjukkan tingginya minat masyarakat Jepara untuk menunaikan ibadah haji,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan bahwa, jemaah perempuan mendominasi dengan 857 orang, sementara laki-laki 690 orang. Kecamatan Pecangaan menjadi penyumbang terbanyak, disusul Tahunan dan Kalinyamatan. Desa Troso tercatat sebagai desa dengan jumlah jemaah tertinggi.
Selain itu, terdapat 296 jemaah lanjut usia berusia 65-79 tahun, serta 51 jemaah berusia di atas 80 tahun. Jemaah tertua berusia 85 tahun, sementara yang termuda 16 tahun. Latar belakang pendidikan dan profesi pun beragam, mencerminkan luasnya partisipasi masyarakat.
“Adapun jemaah haji asal Jepara tahun ini terbagi dalam lima kelompok terbang (kloter). Kloter pertama dijadwalkan berangkat pada 3 Mei 2026, disusul kloter berikutnya secara bertahap,” terangnya.***
Jurnalis : Tomi Budianto
Editor : Fian
































