KENDAL, Lingkarjateng.id – Kasus penyakit tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kendal masih menjadi perhatian serius. Sepanjang 2025 tercatat sebanyak 2.367 kasus, sementara hingga April 2026 jumlah penderita telah mencapai 440 orang.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kendal terus mengintensifkan berbagai upaya untuk menekan penyebaran penyakit menular yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis tersebut.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kendal, Anita Dianawati, berharap tren kasus tahun ini dapat lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau di angka 400 an dalam waktu tiga bulan ya mudah-mudahan akan turun dibanding tahun 2025,” kata Anita dalam kegiatan sosialisasi terkait TBC, Jumat, 3 April 2026.
Ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah gejala TBC, seperti batuk berdahak atau berdarah lebih dari tiga minggu, demam berkepanjangan, keringat malam tanpa aktivitas, penurunan berat badan drastis, hilangnya nafsu makan, sesak napas, hingga nyeri dada.
Anita juga mengimbau warga yang mengalami gejala tersebut agar segera memeriksakan diri dan menjalani pengobatan secara rutin. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dinilai penting untuk mencegah penularan kepada orang lain.
“Tingkat penyembuhannya sekarang banyak yang sembuh. Karena kita sudah ada 30 puskesmas dan 8 rumah sakit yang mampu melayani pasien TBC,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yuni Rahayuningtyas, menyebut Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia, menempati peringkat kedua setelah India.
Untuk menekan kasus di Jawa Tengah, pihaknya terus menggencarkan sosialisasi serta mendorong masyarakat melakukan skrining kesehatan secara rutin guna mendeteksi penyakit sejak dini.
“Kita juga berusaha menemukan sebanyak-banyaknya melalui skrining supaya bisa terdeteksi, kemudian kita melakukan langkah intervensi penyembuhan TBC sampai benar-benar sembuh,” ujarnya.
Ia berharap berbagai langkah tersebut mampu menekan laju penyebaran TBC sekaligus meningkatkan angka kesembuhan di wilayah Jawa Tengah.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Rosyid






























