Blora (lingkarjateng.id) – Pedagang pakaian di Pasar Sido Makmur, Kabupaten Blora, berkeluh sepinya pembeli selama Ramadan tahun ini. Kondisi lebih parah dibanding tahun sebelumnya, dimana masih cukup ada masyarakat yang mencari pakaian untuk kebutuhan Lebaran.
Salah seorang pedagang pakaian di Blok B Pasar Sido Makmur Blora, Azizah, mengatakan sejak awal Ramadan, hingga saat ini jumlah pembeli yang datang dirasa sangat sedikit yang bertransaksi.
Bahkan ia mengaku dalam satu hari, hanya beberapa orang yang melintasi depan dagangan-nya dan belum tentu mampir, untuk melihat barang yang ia pajang.
“Biasanya kalau sudah Ramadan mulai ramai yang cari baju Lebaran, tapi sekarang masih sepi. Kadang sehari hanya satu dua yang beli,” keluh Azizah, saat ditemui di kios Blok B, Kamis (05/03/2026).
Menurut nya kondisi tersebut dirasakan sejak pemindahan pedagang dari pasar Blora kota ke Pasar Sido Makmur, lalu disusul covid 19 pada tahun 2020, dan berlangsung hingga saat ini.
“Kalau bukan pedagang lama, ngga mungkin bisa bertahan. Banyak kios yang tutup, apalagi pedagang baru,” terangnya.
Lebih lanjut, kondisi sepinya pembeli diperparah lagi sejak penerapan sistem e-parkir di kawasan pasar pada pertengahan tahun 2025. Menurutnya, sejak saat itu jumlah pengunjung yang datang ke pasar tradisional tersebut cenderung menurun.
“Sejak ada e-parkir pembeli makin berkurang. Banyak yang akhirnya memilih belanja di tempat lain,” katanya.
Tak hanya menghadapi sepinya minat masyarakat belanja baju ke pasar tradisional, ia mengeluhkan penerapan e-Parkir yang juga menyasar pedagang. Pasalnya kondisi pasar saat ini hanya mampu untuk menyambung hidup.
“Saya parkir motor diluar pagar agar tidak terkena beban biaya parkir meskipun hanya Rp 2 ribu. Selain parkir saya juga sudah dibebani retribusi lapak kios,” terangnya.
Senada dengan Mujib, pedagang pakaian lainnya di Blok A Pasar Sido Makmur. Ia mengaku omzet penjualan menurun cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Modal terus bertambah, sementara pendapatan kami masih harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Ia juga menyebutkan pedagang di bloknya harus membayar retribusi lapak atau kios sebesar Rp5 ribu per hari.
Disisi lain, Mujib mengungkapkan ada program dari pemerintah daerah yang menginstruksikan aparatur sipil negara (ASN) untuk belanja di pasar rakyat. Namun ia menilai program tersebut tidak memiliki dampak signifikan ke para pedagang pakaian.
“Belum lama ini ada gerakan ASN belanja di pasar, tapi kami yang jual pakaian belum terasa dampaknya. Pembeli tetap sepi,” katanya.
Menurut dia, saat kegiatan tersebut berlangsung banyak pejabat datang ke pasar, namun aktivitasnya lebih banyak berfoto dan berkunjung ke area lain. “Kemarin banyak pegawai PNS di sini, foto-foto saja, tapi tidak berdampak bagi perekonomian keluarga kami sehari-hari,” tuturnya.
Ia menambahkan sebagian besar pegawai tersebut berada di Blok C, untuk menikmati kuliner dan berbelanja kebutuhan pokok. Bukan untuk mencari pakaian. “Bagi kami para penjual pakaian, sedikit pun tidak berdampak keberadaan mereka,” katanya.
Para pedagang berharap sepinya pengunjung ke blok-blok penjual pakaian di Pasar Sidomakmur segera membaik menjelang pertengahan hingga lebaran nanti. Selain itu, berharap pemerintah daerah dapat mencari solusi dari program maupun kebijakan untuk perputaran ekonomi. ***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Fian































