Blora (lingkarjateng.id) – Jauh dari pusat Kabupaten Blora dan berjarak 4 kilometer, ada seorang lansia berusia berusia 90 tahun yang masih bertahan di rumah tak layak huni. Tepatnya di Dukuh Pojok, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Blora.
Lansia tersebut bernama Sarni, selama lebih dari 30 tahun, perempuan lanjut usia itu tinggal di rumah berukuran sekitar 8 x 5 meter yang hingga kini masih berlantai tanah tanpa jaringan listrik PLN dan aliran air PDAM.
Rumah seluas kurang lebih 40 meter persegi tersebut, menjadi saksi perjalanan hidup Sarni bersama keluarganya. Di tengah berbagai keterbatasan, ia tetap bertahan menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kesabaran.
Sarni memiliki dua anak, yakni Karmini (69) dan Sukarjo (66). Putranya, Sukarjo, sehari-hari bekerja sebagai pedagang es keliling di wilayah Kabupaten Blora untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
“Sudah puluhan tahun kami tinggal di sini. Sampai sekarang listrik masih menyalur dari tetangga karena belum memiliki sambungan sendiri,” kata Sukarjo, Senin (15/06/2026).
Kondisi rumah yang ditempati keluarga Sarni masih sangat sederhana dan jauh dari layak. Selain lantai tanah, sejumlah fasilitas dasar juga belum sepenuhnya memadai.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, keluarga tersebut mengandalkan sumur pompa manual, yang berada di samping rumah.
Sementara untuk memasak sehari-hari, mereka masih menggunakan kayu bakar karena dinilai lebih terjangkau dibandingkan LPG subsidi.
Di usia yang hampir satu abad, Sarni kini lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Bangunan sederhana yang telah ditempati selama puluhan tahun itu menyimpan banyak kenangan perjalanan hidup bersama keluarga.
Meski hidup dalam kondisi serba terbatas, keluarga Sarni berupaya menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur. Mereka terus bertahan dan berharap suatu saat dapat memiliki rumah yang lebih layak agar Sarni dapat menikmati masa tuanya dengan lebih nyaman.
Kisah Sarni menjadi potret masih adanya warga yang hidup dalam keterbatasan di tengah perkembangan pembangunan. Namun di balik kesederhanaan tersebut, tersimpan keteguhan hati dan semangat untuk terus menjalani kehidupan.
Sementara itu, Kepala Desa Buluroto, Margono, mengatakan masih terdapat sejumlah warga yang belum memiliki sambungan listrik mandiri dan harus menyalur dari rumah tetangga. “Ada sekitar 25 warga masih menyalurkan listrik dari tetangga,” ujarnya.
Terkait kebutuhan air bersih, menurut Margono, sebagian besar warga telah memanfaatkan fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), meskipun masih ada pula yang menggunakan sumur manual.
“Untuk kebutuhan air ada yang menggunakan sumur manual dan ada juga yang memanfaatkan fasilitas Pamsimas,” katanya.
Pemerintah desa terus berupaya mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program bantuan dan pembangunan infrastruktur dasar agar kebutuhan warga dapat terpenuhi secara lebih baik.***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Fian































