GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Warga Dukuh Kemiri, Desa Depok, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan mengalami kesulitan air bersih sejak Juli 2026.
Musim kemarau menyebabkan sumber air di Dukuh Kemiri kekeringan. Sumur-sumur warga meskipun masih mengeluarkan air namun jumlah terbatas, kualitasnya juga jauh dari layak untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah satu warga, Pujiyono, mengatakan hampir setiap rumah memiliki sumur dengan kedalaman rata-rata sekitar 15 meter. Namun, sumur tersebut hanya mampu menghasilkan air sekitar dua hingga tiga ember.
“Sumur rata-rata kedalamannya 15 meter. Hanya bisa mengambil dua sampai tiga ember, itu pun airnya asin, berkapur, dan agak kekuningan. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari tidak layak,” ujar Pujiyono, Selasa, 22 September 2026.
Kondisi tersebut membuat warga harus berhemat menggunakan air. Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, warga masih mengandalkan air sumur yang tersisa. Sementara untuk kebutuhan air minum, warga harus membeli air dalam kemasan galon.
Dengan kondisi saat ini, warga pun kini berharap bantuan air bersih disalurkan selama musim kemarau berlangsung.
Pujiyono menyebut bantuan air bersih sebenarnya telah beberapa kali datang dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, pihak swasta hingga para dermawan ikut membantu memenuhi kebutuhan air warga.
Menurut Pujiyono, kekeringan bukan persoalan baru bagi warga Dukuh Kemiri. Hampir setiap tahun, wilayah tersebut mengalami kesulitan air saat musim kemarau. Kondisi paling parah terjadi pada 2024. Saat itu, warga harus menghadapi kekeringan hingga hampir tujuh bulan.
“Setiap tahun memang sering kekeringan. Yang paling parah pada 2024 karena hampir tujuh bulan warga mengalami kekeringan,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih menjadi sangat berarti bagi warga. Salah satu bantuan kali ini datang dari Tim Subpaminal Bidpropam Polda Jawa Tengah
Tim tersebut menyalurkan bantuan air bersih di lima titik di wilayah Dukuh Kemiri. Total sebanyak lima tangki air didistribusikan, dengan kapasitas masing-masing tangki mencapai 5.000 liter.
Tim Subpaminal Bidpropam Polda Jawa Tengah, AKP Syam Kurniawan, mengatakan penyaluran air bersih tersebut merupakan bentuk kepedulian kepolisian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Harapannya, bantuan air bersih ini dapat membantu meringankan penderitaan warga yang mengalami kekurangan air akibat musim kemarau,” ujar Syam Kurniawan.
Syam menambahkan, program penyaluran bantuan air bersih tersebut sejauh ini telah menjangkau 12 wilayah kepolisian resor (Polres) di Jawa Tengah. Jumlah wilayah penerima bantuan masih berpotensi bertambah seiring dengan pelaksanaan program sosial tersebut.
Tak hanya air bersih, bantuan sosial juga diberikan kepada masyarakat yang terdampak bencana maupun membutuhkan dukungan kemanusiaan. Salah satunya berupa bantuan sembako bagi korban tanah longsor di Majenang.
Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan, terutama di tengah musim kemarau dan bencana yang melanda sejumlah daerah.
Bagi warga Dukuh Kemiri, bantuan tersebut bukan sekadar kiriman air. Di tengah sumur yang semakin dangkal dan air yang berubah asin serta keruh, setiap tangki air menjadi penopang kebutuhan dasar warga untuk bertahan menghadapi kemarau.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa





























