SEMARANG, Lingkarjateng.id – Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Semarang Raya menggelar aksi demonstrasi dari kawasan Kilometer Nol Kota Semarang menuju Tugu Muda, Rabu, 26 Agustus 2026. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan yang disebut sebagai Panca Tuntutan Rakyat (Pantura).
Massa sempat tertahan di Jalan Pemuda setelah aparat kepolisian melakukan penyekatan. Situasi memanas dengan aksi saling dorong antara demonstran dan petugas. Sejumlah mahasiswa juga terlihat mengangkat salam tiga jari sebagai simbol perlawanan terhadap tirani.
Setelah melalui dialog selama beberapa jam, aparat akhirnya membuka akses menuju Tugu Muda. Polisi kemudian mengawal perjalanan massa agar aksi berlangsung tertib.
Perwakilan BEM Universitas Diponegoro (Undip), Rangga, menyebut terdapat lima tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut. Tuntutan itu meliputi persoalan harga kebutuhan pokok dan BBM hingga pemberantasan korupsi di lingkungan pemerintahan.
“Satu, turunkan harga bahan pokok dan BBM. Dua, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi utama. Tiga, evaluasi total program MBG dan hentikan program KDMP. Empat, kembalikan kepemilikan tanah ke rakyat dan rehabilitasi segera wilayah terdampak bencana. Lima, hentikan praktik KKN di lingkungan pemerintahan,” ujarnya.
Perwakilan BEM Universitas Negeri Semarang (Unnes), Hasan, mengatakan tuntutan tersebut masih dianggap relevan karena mahasiswa menilai belum ada penyelesaian konkret yang berdampak langsung kepada masyarakat.
“Per hari ini pemerintah belum melakukan penyelesaian yang begitu konkret dan bisa dirasakan masyarakat. Setelah kami melakukan konsolidasi dan kajian, isu-isu atau tuntutan ini masih relevan,” kata Hasan.
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah harga BBM. Hasan menilai harga Pertamax yang berada di kisaran Rp15 ribu per liter masih membebani masyarakat meski telah turun dari sebelumnya sekitar Rp16 ribu.
“Pertamax masih menginjak Rp15 ribu per liter. Memang sudah ada penurunan dari sebelumnya Rp16 ribu, tetapi penurunan tersebut belum signifikan dan belum menjawab permasalahan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hasan, kondisi tersebut mendorong sebagian pengguna Pertamax, termasuk pengemudi ojek daring, beralih ke Pertalite. Dampaknya, antrean di sejumlah titik pengisian BBM bersubsidi dinilai semakin panjang.
“Banyak pengguna Pertamax, misalnya teman-teman ojol. Karena Pertamax mahal, akhirnya mereka beralih ke Pertalite. Antriannya kemudian membludak dan akses terhadap Pertalite menjadi susah,” jelasnya.
Selain BBM, mahasiswa menyoroti harga kebutuhan pokok yang dinilai masih tinggi dan belum sepenuhnya stabil. Persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang akan terus mereka kawal bersama tuntutan lainnya.
Pada poin kedua, BEM Unnes juga menyoroti keberadaan anggota TNI dan Polri yang menduduki jabatan sipil. Hasan menilai keterlibatan aparat dalam posisi tersebut perlu dievaluasi dan menjadi perhatian pemerintah.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid





























