KENDAL, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal melakukan normalisasi Sungai Aji di Kecamatan Kaliwungu untuk mengantisipasi banjir saat memasuki musim penghujan. Pengerjaan dilakukan meski sungai tersebut berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Pemkab Kendal mengalokasikan anggaran sekitar Rp580 juta dari APBD Kabupaten Kendal untuk menangani sedimentasi yang dinilai sudah cukup tinggi. Langkah ini diambil karena agenda normalisasi dari pemerintah provinsi belum terjadwal.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengatakan pengerukan diperlukan untuk mengurangi risiko luapan sungai ketika intensitas hujan meningkat.
“Karena dari provinsi belum terjadwal untuk menormalisasi Kali Aji ini, kemudian kondisi sedimentasinya sudah sangat tinggi, sehingga untuk mengantisipasi musim penghujan, kami menggunakan anggaran APBD Kabupaten Kendal secara keseluruhan,” kata Bupati yang akrab disapa Tika saat meninjau normalisasi Sungai Aji, Kamis, 3 September 2026.
Meski menggunakan anggaran daerah, Pemkab Kendal tetap berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Tengah karena Sungai Aji merupakan kewenangan provinsi.
“Karena ini kewenangan provinsi, kami mengajukan pemberitahuan dan izin,” ujarnya.
Tika mengungkapkan normalisasi dilakukan pada tiga ruas. Ruas pertama membentang dari Krajankulon hingga Brimob Plantaran sepanjang sekitar 900 meter. Ruas kedua berada dari jembatan Desa Sukomulyo-Desa Blorok hingga Desa Penjalin dengan panjang sekitar 3,1 kilometer.
Sementara ruas ketiga berada di sekitar jembatan jalan Cepiring-Gondang dengan panjang kurang lebih 1,5 kilometer.
“Untuk ketiga ruas itu anggarannya sekitar Rp580 juta,” tuturnya.
Pemkab Kendal mengerahkan dua alat berat untuk mengangkat sedimentasi yang menumpuk di alur Sungai Aji. Pengerukan ditujukan untuk mengembalikan fungsi sungai agar kapasitas tampung dan aliran air lebih optimal.
“Harapannya nanti resiko luapan sungai yang berpotensi menggenangi permukiman warga dapat ditekan saat musim hujan,” ujarnya.
Meski demikian, Tika menyebut pelaksanaan pekerjaan di lapangan masih menghadapi kendala, salah satunya keberadaan kabel di sekitar alur sungai. Kondisi tersebut membuat proses pengerukan harus dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan agar tidak merusak jaringan yang melintas.
Bagi masyarakat di sekitar Sungai Aji, normalisasi menjadi langkah yang telah lama dinantikan. Warga Desa Plantaran, Mujiono, menyebut kawasan tempat tinggalnya kerap terdampak banjir.
“Yang paling rawan ini daerah kampung saya. Langganan banjir, setiap tahun bisa sampai lima kali,” ungkap Mujiono.
Menurutnya, pengerukan dengan alat berat seperti yang dilakukan sekarang sudah lama tidak dilakukan. Selama ini, warga lebih sering mengandalkan kegiatan bersih-bersih sungai secara gotong royong.
“Ini sudah lama sekali baru dikeruk, sejak zamannya Bupati Hendi. Biasanya cuma dibersihkan lewat kerja bakti,” katanya.
Mujiono berharap pengerukan dapat memperlancar aliran sungai dan mengurangi ancaman banjir yang selama ini dirasakan warga.
“Semoga setelah dikeruk nanti tidak banjir lagi,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Muslichul Basid






























