DEMAK, Lingkarjateng.id – Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyebut almarhum Drs. Fathan Subchi sebagai sosok yang mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Dedikasi dan kepeduliannya terhadap masyarakat menjadi teladan yang patut dikenang.
Hal tersebut disampaikan Cak Imin saat memberikan sambutan dalam prosesi pengantaran jenazah Fathan Subchi, anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, di area Pemakaman Kasepuhan Girikusumo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat, 30 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, Cak Imin mengaku meyakini Fathan Subchi meninggal dalam keadaan syahid. Keyakinan tersebut didasari pengabdian almarhum yang wafat saat menjalankan tugas negara di Moskwa, Rusia.
“Saya yakin saudaraku Fathan wafat dalam keadaan syahid, karena berjuang tiada henti, karena berjuang tiada kenal lelah memikirkan rakyatnya, masyarakatnya dan bangsanya,” ujar Cak Imin.
Anggota BPK Fathan Subchi Meninggal, Karangan Bunga Banjiri Rumah Duka di Demak
Ia juga mengaku menjadi saksi perjalanan pengabdian sahabatnya tersebut. Menurutnya, Fathan merupakan sosok yang tidak pernah lelah dan tidak mengharapkan pamrih dalam memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
“Saya menjadi saksi sahabat saya tanpa pernah lelah, tanpa pamrih berusaha menjadi yang terbaik dalam pengabdiannya kepada masyarakat,” ungkapnya.
Cak Imin menuturkan, kepedulian Fathan terhadap sesama tidak hanya diwujudkan melalui jabatan dan pengabdiannya sebagai pejabat negara. Almarhum juga dikenal gemar membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, menolong mereka yang lemah, hingga memberikan bantuan kepada orang-orang yang kekurangan.
“Membantu yang kesulitan, menolong yang lemah, membiayai yang kekurangan, itulah bagian hidupnya yang patut kita contoh,” tuturnya.
Di hadapan para pelayat, Cak Imin juga mengungkapkan kisah perjalanan pendidikan Fathan Subchi. Ia mengaku baru mengetahui cerita dari ayah almarhum bahwa Fathan pernah harus berhenti kuliah karena keterbatasan biaya.
“Saya baru mendapatkan cerita dari bapaknya, Pak Fathan harus berhenti kuliah di semester dua karena bapaknya tidak memiliki biaya,” katanya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Sekar
































