SEMARANG, Lingkarjateng.id – Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (Ketum JMSI), Teguh Santosa, menegaskan pentingnya peran generasi muda yang aktif di platform digital sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat dalam menyampaikan informasi pembangunan.
Hal itu disampaikan Teguh saat menjadi narasumber dalam Workshop Magang Komunikasi Pembangunan bertema Suara Muda, Pembangunan Berkelanjutan yang digelar Nexus Digital Strategy di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Rabu, 3 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 pemuda dan mahasiswa yang aktif sebagai konten kreator.
Dalam pemaparannya, Teguh menjelaskan bahwa arah pembangunan nasional yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak dapat dipisahkan dari dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Menurutnya, Indonesia perlu mengambil peran lebih besar dalam percaturan internasional agar mampu memperkuat posisi bangsa, baik dari sisi ekonomi maupun kualitas sumber daya manusia.
“Di tengah situasi baru ini, Indonesia harus mengambil peran yang lebih besar. Karena itu, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk membantu mengkomunikasikan berbagai kebijakan pembangunan kepada masyarakat melalui media digital yang mereka kuasai,” ujarnya.
Teguh menilai para konten kreator memiliki peluang besar untuk menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat luas. Namun, ia mengingatkan agar produksi konten tidak semata-mata berorientasi pada popularitas maupun viralitas.
Menurutnya, kualitas, etika, serta manfaat yang dihasilkan harus tetap menjadi perhatian utama dalam setiap karya yang dipublikasikan.
“Jangan hanya mengejar views dan viral. Konten yang baik adalah konten yang mampu memberikan manfaat, membangun pemahaman, dan meningkatkan kesadaran publik terhadap berbagai isu penting,” katanya.
Sebagai wartawan senior, Teguh juga menanggapi pandangan yang menyebut perkembangan konten digital akan menggeser eksistensi media massa. Ia berpandangan bahwa media pers dan konten kreator justru memiliki peran yang saling melengkapi karena masing-masing menghadirkan karakter dan produk informasi yang berbeda.
Selain itu, ia menyoroti tantangan yang masih dihadapi industri media, mulai dari penguatan ekosistem pers, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga kualitas karya jurnalistik yang dihasilkan.
Sementara itu, Asisten Koordinator Daerah Nexus Semarang Raya, Muhammad Iqbal, mengatakan pelatihan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk memasuki dunia kerja yang semakin membutuhkan kemampuan di bidang digital.
“Jadi follow up ke dunia kerja lebih luas, entah itu secara mandiri ataupun ikut bergabung dengan agency karena hampir semua aspek sekarang membutuhkan tim-tim konten kreator yang paham akan digital marketing atau memasarkan sesuatu,” ujarnya.
Ia menambahkan, para konten kreator di daerah saat ini dinilai tidak menghadapi kendala berarti dalam mengembangkan kemampuan. Selain mengikuti pelatihan, mereka juga aktif belajar secara mandiri melalui berbagai platform media sosial.
Salah seorang peserta, Hafid Aflakha, mengaku mengikuti kegiatan tersebut untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan kamera sekaligus membangun kepercayaan diri.
“Saya ingin belajar sekaligus juga melatih kepercayaan diri saya tampil didepan kamera,” jelasnya.
Dalam workshop itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai strategi pembuatan konten digital, termasuk teknik hook dan call to action (CTA) yang banyak digunakan dalam pemasaran digital.
“Terus yang kedua call to action (CTA) yakni kalimat, tombol, atau instruksi ajakan yang dirancang untuk mendorong audiens mengambil tindakan langsung. Kunci utamanya adalah penggunaan kata kerja aktif misalnya, klik, beli, daftar, bagikan dan memberikan instruksi yang sangat spesifik agar audiens tahu apa yang harus dilakukan setelah menikmati konten Anda,” katanya.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid






























