Blora (lingkarjateng.id) – Belasan Sekolah Dasar Negeri di Blora terpaksa berhenti beroperasi dari kegiatan belajar mengajar imbas dari regrouping yang telah diberlakukan di tahun ajaran baru 2026/2027.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora melalui sekretarisnya, Nuril Huda, mengakui jika memang saat ini ada belasan sekolah SD Negeri yang terpaksa berhenti beroperasi melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
“Iya memang benar, itu imbas regrouping yang kita jalankan tahun ini,” kata Nuril, Senin (13/7).
Nuril menjelaskan, di Kabupaten Blora ada 17 SD yang digabung. Namun, masih ada beberapa sekolah yang dipakai karena masih paralel.
“Dari 17 SD tersebut, ada 5 sekolah yang masih paralel yakni SD Kapuan, Tempel, Besingin, Kamolan dan SD Kalangan. Sehingga gedung sekolahnya masih dipakai untuk pembelajaran,” jelasnya.
Ia menambahkan jika bangunan gedung yang sudah tidak terpakai kembali menjadi aset milik Dinas Pendidikan Kabupaten Blora. Sehingga, jika ada yang hendak menggunakan bisa ijin ke dinas.
Lantas saat disinggung terkait jenjang SD dan SMP yang mini mendapatkan siswa baru pada tahapan penerimaan siswa tahun ini. Ia mengungkapkan bahwa ada 11 SD yang minim mendapatkan siswa bahkan ada SD yang sama sekali tidak mendapatkan siswa baru.
“Ada 11 SD yang 0 siswa baru. Tetapi setelah proses SPMB selesai ada 11 anak daftar yang yang tersebar di masing-masing sekolah. Yang benar-benar 0 siswa itu ada di SDN 1 Temengeng dan SDN 1 Selogender Kecamatan Jati,” bebernya. ***
Jurnalis : Hanafi
Editor : Redaksi





























