Batang (lingkarjateng.id) – Pantai pesisir di wilayah Kabupaten Batang mengalami abrasi parah. Lebih dari dua hektare lahan milik pemerintah daerah kawasan wisata Pantai Sigandu dilaporkan terendam air laut, sehingga mengancam sektor pariwisata setempat.
Kepala Bidang Destinasi dan Usaha Pariwisata Disparpora Batang Debby Sintya Rengganis mengungkapkan, bahwa kerusakan di Pantai Sigandu sudah mencakup sepertiga dari total aset daerah di sana.
“Kurang lebih tanah milik Pemda yang dikelola di sana sekitar enam hektare, dan yang sudah terkena rob itu lebih dari dua hektare,” kata Debby kepada wartawan, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, kerusakan infrastruktur di lapangan terpantau cukup masif. Bangunan penahan abrasi yang sebelumnya diandalkan kini telah roboh diterjang ombak, ditambah rusaknya gapura utama yang menjadi akses masuk wisatawan.
Debby mengakui penanganan fisik secara besar-besaran belum bisa dilakukan dalam waktu dekat karena kendala anggaran. Untuk sementara, pemerintah daerah berfokus pada mitigasi lingkungan dan menargetkan pemulihan total pada tahun depan.
“Untuk jangka pendek kami belum ada penanganan yang lebih serius. Sementara ini lebih ke penanaman mangrove. Pemkab Batang berharap dapat melakukan pembenahan kawasan wisata Pantai Sigandu pada tahun 2027 mendatang,” jelasnya.
Sementara itu, Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Riyadi Kurniawan memaparkan bahwa ancaman rob membentang dari Semarang, Kendal, Pekalongan, hingga Tegal.
Kawasan Pantura barat tercatat menerima dampak paling parah dengan rata-rata ketinggian air mencapai 30 sentimeter.
“Mayoritas Pantura itu terimbas rob. Bahkan beberapa wilayah juga mengalami abrasi. Rata-rata bisa masuk sampai 30 senti. Beberapa area pasir itu terdampak,” terangnya.
Meski rob terus mengintai, Riyadi menyebut angka kunjungan wisata ke pantai belum merosot tajam karena banjir pasang surut ini hanya terjadi pada jam-jam tertentu. Dirinya tidak menampik adanya pergeseran tren wisatawan yang kini beralih ke wisata pegunungan.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mengimbau para pengelola destinasi wisata memanfaatkan data cuaca BMKG secara real-time untuk mengedukasi calon pengunjung melalui media sosial.
“Kalau wisatawan mau ke satu pantai, mereka sudah tahu bagaimana kondisinya. Informasi itu bisa disebarluaskan melalui Instagram atau media sosial pengelola,” pungkasnya. ***
Editor : Redaksi





























