SEMARANG, Lingkarjateng.id – Demonstrasi yang dilakukan ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) di Balai Kota dan Gedung DPRD Kota Semarang pada Senin, 26 Agustus 2024 berujung ricuh. Sebanyak 27 pendemo yang terdiri dari 21 pelajar SMA/SMK dan enam mahasiswa diamankan di Mapolrestabes Semarang.
Kuasa hukum dari Gerakan Rakyat Menggugat Jawa Tengah (Geram Jateng), Tuti Wijaya, menyayangkan sekaligus mengecam tindakan aparat kepolisian yang menahan puluhan pelajar dan mahasiswa peserta aksi demonstrasi di Balai Kota Semarang. Tuti mengungkapkan bahwa sebanyak 40 peserta aksi dilarikan ke rumah sakit akibat unjuk rasa yang berakhir ricuh. Mereka mengalami luka-luka dan sesak napas akibat terkena gas air mata. Sementara, puluhan pelajar dan mahasiswa masih ditahan oleh aparat kepolisian.
“Sampai malam ini kami belum bisa masuk ke ruang pemeriksaan karena dihalang-halangi oleh tim penyidik,” kata Kuasa Hukum Geram Jateng, Tuti Wijaya, di Mapolrestabes Semarang.
Kuasa hukum Geram Jateng lainnya, Nasrul Dongoran, berharap penyidik memperlakukan anak di bawah umur sesuai dengan ketentuan hukum, seperti tidak melakukan pemeriksaan di malam hari. Ia juga mengecam tindakan aparat kepolisian yang menangkap dan menahan pelajar yang masih di bawah umur.
“Anak di bawah umur harus didampingi oleh wali atau kuasa hukumnya,” tegas Nasrul Dongoran.
Hingga pukul 21.50 WIB, Nasrul mengaku melihat puluhan pelajar yang masih mengenakan seragam putih abu-abu diamankan di Polrestabes Semarang.
Nasrul juga menyebut ada pelajar yang diamankan dalam kondisi tidak memakai baju di ruang penyidik, yang berpotensi melanggar hak-hak anak.
“Menurut aturan, anak yang diperiksa harus ditangani oleh penyidik khusus anak, bukan penyidik umum dari Resmob atau Brimob,” katanya.
Diketahui, massa aksi tersebut mengawal putusan Mahkamah Konstitusi terkait UU Pilkada, serta menyuarakan tuntutan agar Presiden Joko Widodo mundur dari jabatannya.
Setelah merusak pintu gerbang Balai Kota Semarang hingga pukul 18.00 WIB, polisi memukul mundur ribuan mahasiswa dengan water cannon dan gas air mata yang menyebabkan mereka berlarian menyelamatkan diri. (Lingkar Network | Rizky Syahrul Al-Fath – Lingkarjateng.id)































