SEMARANG, Lingkarjateng.id – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Tengah menduga kematian atlet pencak silat Kota Semarang, Ayudiah Rivana Tridiandinita (19), berkaitan dengan penggumpalan darah.
Dugaan tersebut muncul setelah Ayudiah meninggal dunia pada Rabu, 28 Oktober 2026, usai menjalani operasi akibat cedera yang dialaminya saat bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng 2026.
Ketua IDI Jateng, dr. Telogo Wismo Agung Durmanto, mengatakan benturan selama pertandingan pencak silat berpotensi memicu penggumpalan darah. Namun, kepastian mengenai penyebab kematian Ayudiah masih menunggu hasil pemeriksaan medis dari pihak rumah sakit.
“Karena kan pesilat, mungkin saja terjadi (penggumpalan darah). Setiap pukulan berpotensi (mengakibatkan penggumpalan darah),” kata Agung saat dihubungi awak media, Minggu, 1 November 2026.
Menurut Agung, penggumpalan darah dapat terjadi akibat benturan dalam aktivitas olahraga yang melibatkan kontak fisik. Dampaknya bisa berbahaya, bergantung pada bagian tubuh yang mengalami gangguan tersebut.
“Bisa. Tergantung penggumpalan di lokasi mana,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan dugaan tersebut. Agung menyebut informasi yang diterimanya sejauh ini baru sebatas kronologi kejadian. Pihaknya juga belum memperoleh hasil pemeriksaan medis secara terperinci dari RS Primaya Semarang, tempat Ayudiah sebelumnya menjalani perawatan.
“Jadi belum mendapatkan laporan secara spesifik. Paling bahaya kalau terjadi di otak, disebut stroke. Kalau di jantung, disebut jantung koroner, dan seterusnya,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari penelusuran kasus, IDI Jateng sebelumnya telah meminta keterangan Direktur RS Primaya Semarang. Agung menugaskan Ketua Satu IDI Jateng, dr. Elang, untuk menggali informasi mengenai rangkaian peristiwa yang dialami Ayudiah hingga akhirnya meninggal dunia.
“Kita nggak punya pintu masuk untuk investigasi, kalau yang dimaksud investigasi dalam sebuah kasus. Tapi saya sudah menugaskan dokter Elang, ketua satu, untuk mendapatkan informasi seperti apa kronologinya. Nah, sudah bertanya ke Direktur Primaya, dan sudah melaporkan ke saya,” katanya.
Di sisi lain, Polrestabes Semarang masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian atlet tersebut.
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Agus Supriadi, mengatakan penyidik berencana meminta keterangan tambahan dari dokter yang menangani Ayudiah pada pekan depan.
“Rencana pemeriksaan dokter tambahan minggu depan. Kalau keterangan masih sama seperti kemarin. Untuk penggumpalan darah, sementara kami masih penyelidikan,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kapolrestabes Semarang Kombes, Erlin Tang Jaya, menyampaikan bahwa kepolisian akan meminta penjelasan dari dokter RS Primaya Semarang terkait kondisi Ayudiah sebelum meninggal dunia.
Erlin menyebut dugaan penggumpalan darah menjadi salah satu kemungkinan yang perlu ditelusuri. Meski begitu, kepastian penyebab kematian masih harus didasarkan pada pemeriksaan medis lebih lanjut.
“Perkiraan dokter apakah ini mengalami penggumpalan darah. Mungkin itu darahnya anak ini kental atau apa gitu kita nggak tahu, tapi diperkirakan seperti itu,” kata Erlin.
Jurnalis: Lingkar Network/Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Muslichul Basid






























