BLORA, Lingkarjateng.id – Kecamatan Kunduran menjadi wilayah dengan kasus baru stunting tertinggi di Kabupaten Blora hingga September 2026. Di sisi lain, temuan kasus baru didominasi bayi usia 0–5 bulan, sehingga pencegahan sejak sebelum kehamilan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora.
Hal itu disampaikan Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Blora, Sri Setyorini atau Bude Rini, dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting di Sekretariat Daerah Blora, Kamis, 22 Oktober 2026.
“Kasus baru paling banyak justru terjadi pada bayi usia 0-5 bulan. Artinya, pencegahan harus dimulai sejak sebelum kehamilan hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Jangan sampai kita baru bergerak ketika masalah gizi sudah terjadi,” ujar Bude Rini.
Dia meminta organisasi perangkat daerah (OPD) menggunakan data sebagai dasar penyusunan program yang tepat sasaran.
“Saya nanti ingin OPD yang memiliki anggaran terkait stunting ini, capaiannya seperti apa, sasarannya apa, yang sudah dilaksanakan apa, dokumentasinya. Nanti ditindaklanjuti evaluasi, akan saya cek satu-satu di lapangan,” tegasnya.
Pemkab Blora turut memperkuat layanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan kehamilan, imunisasi lengkap, pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, hingga pendampingan keluarga berisiko stunting.
Dinas Kesehatan dan puskesmas diminta meningkatkan deteksi dini ibu hamil berisiko serta pendampingan bayi usia 0-24 bulan. Sementara itu, perangkat daerah terkait dan pemerintah desa didorong memperbaiki sanitasi serta akses air minum aman di wilayah prioritas.
Bude Rini menegaskan, penurunan stunting membutuhkan koordinasi lintas sektor dan pelaksanaan program yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak. Ini adalah investasi masa depan Blora. Karena itu, sebagai Ketua TPPS, saya mengajak kita semua fokus pada aksi nyata, bukan sekadar angka dan laporan,” ungkapnya.(Adv)
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar




























