Pekalongan (lingkarjateng.id) – Pemerintah Kota Pekalongan bersama Universitas Pekalongan (Unikal) memperkuat kolaborasi guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang bersih, nyaman, hijau, dan berkelanjutan.
Wakil Wali Kota Pekalongan Balqis Diab mengatakan, konsep green campus tidak hanya menjadi tanggung jawab perguruan tinggi, tapi membutuhkan sinergi dengan pemerintah. Menurutnya, kampus bisa menjadi contoh model bagi lingkungan pendidikan lainnya di Kota Pekalongan.
“Kegiatan ini luar biasa. Biasanya kita bekerja sama dan berkolaborasi dengan masyarakat. Kali ini kampus ikut bersama-sama dengan pemerintah kota untuk bagaimana menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan,” kata Balqis dalam kegiatan Capacity Building Penguatan Mindset Green Campus yang digelar di Auditorium Gedung C Lantai 3 Unikal, Kamis (10/9/2026).
Balqis berharap konsep yang dikembangkan Unikal tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat berlanjut menjadi sinergi program antara kampus dan pemerintah.
Terlebih, dalam kegiatan tersebut Unikal juga menyerahkan policy brief yang disusun kampus bersama mahasiswa. Dokumen tersebut dinilai dapat menjadi bahan penguatan kebijakan pemerintah dalam tata kelola lingkungan di Kota Pekalongan.
“Ini akan memperkuat lagi ke depan tata kelola lingkungan di Kota Pekalongan lebih baik lagi, lebih bersih, hijau, nyaman, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Balqis mengatakan, pengembangan tata kelola lingkungan di lingkungan pendidikan nantinya dapat diperluas secara bertahap. Setelah menggandeng perguruan tinggi, konsep tersebut akan diarahkan ke tingkat SLTA hingga jenjang pendidikan yang lebih kecil.
Menurutnya, pengelolaan lingkungan di sekolah dan kampus tidak hanya berkaitan dengan persoalan sampah. Aspek sanitasi, penggunaan air, serta penghijauan juga perlu menjadi bagian dari tata kelola lingkungan.
“Tadi ada salah satu yang menarik dari policy brief itu, bahwa nanti di setiap sekolah atau kampus itu mereka mempunyai pengelolaan tata lingkungan yang dibuat versi kampus atau versi sekolah,” katanya.
Sementara itu, Rektor Unikal Andi Kushermanto, menegaskan bahwa green campus tidak semata-mata diukur dari luasnya ruang terbuka hijau maupun kondisi tata ruang kampus.
Namun, bagaimana kampus mampu memanfaatkan sumber daya secara efisien sekaligus membangun kesadaran seluruh sivitas akademika terhadap keberlanjutan. “Green campus bukan hanya pada persoalan tata ruang, tetapi kemampuan kampus di dalam melakukan pemanfaatan sumber daya secara efisien,” jelas Andi.
Untuk membangun sistem tersebut, Unikal menggandeng Universitas Indonesia melalui pendampingan UI GreenMetric. Untuk membantu melakukan perencanaan, menyusun rencana aksi, mengukur capaian, melihat dampak, dan mengembangkan program secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, Unikal menargetkan penerapan konsep green campus dilakukan secara bertahap, terukur, dan memberikan dampak nyata, bukan sekadar pencitraan lingkungan.
“Kami tidak ingin adanya greenwashing, yang itu sejauh ini menjadi persoalan, yaitu seolah-olah kampus itu hijau, tapi realita kebijakan teknis itu belum tersentuh,” pungkasnya. ***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Adi Arfian































