KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Warga di lereng selatan Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, mengkhawatirkan rencana pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) karena dinilai berpotensi berdampak terhadap sumber air, pertanian, kawasan wisata, hingga lingkungan sekitar Candi Gedong Songo.
Kekhawatiran itu muncul setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendelegasikan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran kepada PT PLN (Persero) pada Agustus 2026. Rencana tersebut kini masih dalam tahap kajian, termasuk aspek lingkungan, tata ruang, keselamatan warga, serta perlindungan kawasan cagar budaya.
Salah seorang warga Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Budi, mengatakan masyarakat telah mendengar rencana pengeboran tersebut. Namun, hingga kini belum ada sosialisasi resmi yang menjelaskan proyek secara rinci kepada warga.
“Sudah mendengar rencana pengeboran geothermal itu, apalagi rencana pengeborannya kan ada di sekitar Candi Gedong Songo, jadi warga disini sudah banyak yang mendengar informasi rencana pengeboran itu,” kata Budi, Selasa, 1 September 2026.
Minimnya informasi membuat warga belum memahami mekanisme maupun potensi dampak kegiatan pengeboran. Kondisi itu memunculkan keresahan, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian dan pariwisata.
“Ya kalau warga pasti merasa resah dan khawatir karena secara pengetahuan, warga ini kan belum tahu dan belum paham secara detail soal geothermal ini. Jadi informasinya seperti apa, dan mekanismenya nanti seperti apa itu warga belum tahu, tapi yang pasti warga khawatir soal rencana pengeboran itu,” terangnya.
Budi menyebut pertanian menjadi salah satu sektor yang paling dikhawatirkan terdampak. Selain itu, aktivitas pengeboran yang direncanakan berada di sekitar kawasan Candi Gedong Songo dinilai dapat memengaruhi kegiatan wisata dan kondisi lingkungan.
“Mayoritas warga khawatir soal sektor pertanian, karena disini banyak warga yang bekerja sehari-hari sebagai petani. Karena pengeboran ini pasti akan berdampak pada pertanian masyarakat di sini,” bebernya.
“Sudah pasti sektor wisata juga akan berdampak, karena titiknya kan ada di dalam kawasan Candi Gedong Songo. Belum lagi dampak ke lingkungan, air pasti akan berkurang banyak karena adanya proyek geothermal itu, alam juga akan rusak,” sambungnya.
Selain lingkungan dan ekonomi, warga juga menaruh perhatian terhadap keberadaan situs sejarah serta aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.
“Belum lagi sisi sejarah, pasti akan terganggu karena lokasinya ada di dekat candi, jadi geothermal ini bisa memutus sejarah yang ada di sekitar candi-candi itu, karena titik pertama rencana pengeborannya itu ada di kawah belerang atau air panas yang lereng Gunung Ungaran yang itu ada di dekat candi tertinggi di kawasan Gedong Songo ini, yaitu Candi Kelima,” katanya.
Menurut Budi, kekhawatiran terhadap sumber daya air juga berkaitan erat dengan keberlangsungan pertanian warga. Ia mempertanyakan dampak eksploitasi panas bumi apabila dilakukan secara terus-menerus.
“Nah kalau diambil terus-terusan nanti jika proyek ini jadi misalnya, apakah tidak mengganggu pertanian warga? Pasti mengganggu, rusak semua pasti pertanian warga di sini,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang diterima warga, terdapat dua lokasi yang disebut menjadi rencana titik pengeboran, yakni kawasan Kawah Belerang atau air panas di kompleks Candi Gedong Songo dan wilayah Posong.
Kawasan Posong berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL). Sementara jarak kedua lokasi yang disebut warga sebagai titik rencana pengeboran dengan permukiman Dusun Darum diperkirakan sekitar satu kilometer.
Area tersebut mencakup lahan pertanian, kawasan wisata, sumber air panas atau kawah, hingga kawasan berhutan di lereng Gunung Ungaran.
Jurnalis: Lingkar Network/Hesty Imaniar
Editor: Muslichul Basid






























