PATI, Lingkarjateng.id – Sejumlah wilayah Kabupaten Pati mulai mengalami krisis air akibat kemarau panjang. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, sedikitnya 18 desa yang tersebar di delapan kecamatan kini mulai mengalami krisis air bersih.
Desa-desa tersebut meliputi Desa Cengkalsewu di Kecamatan Sukolilo, Srikaton di Kecamatan Kayen, Tambakromo dan Tambahagung di Kecamatan Tambakromo, Sumbermulyo di Kecamatan Winong, Kletek dan Tanjungsekar di Kecamatan Pucakwangi, Ronggo dan Sidomukti di Kecamatan Jaken, Sinoman di Kecamatan Pati, serta Tondokerto, Tlogorejo, Tambahmulyo, Plosojenar dan Karangrejolor di Kecamatan Jakenan.
Kepala BPBD Pati Martinus Budi Prasetya mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan kondisi kekeringan di seluruh wilayah Pati. Pihaknya juga memastikan terus menyalurkan air bersih untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan pasokan air.
“Untuk sementara sudah kami distribusikan 24 tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter. Penyaluran mencakup sejumlah desa di wilayah Pucakwangi, Jakenan, Tambakromo, dan Gabus,” ujarnya, Minggu, 30 Agustus 2026.
Menurut Martinus, wilayah dilanda krisis air masih berpeluang bertambah seiring berlangsungnya musim kemarau. Karena itu, ia mengimbau masyarakat segera melapor agar petugas dapat menindaklanjuti.
“Memasuki September hingga Oktober, kami memperkirakan jumlah desa yang mengalami kekeringan akan bertambah, termasuk dampaknya terhadap lahan persawahan. Karena itu, kami menyiapkan sekitar 10 sampai 12 tangki setiap hari untuk melayani masyarakat yang membutuhkan air bersih,” jelasnya.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network
Editor: Sekar































