PATI, Lingkarjateng.id – Musim kemarau di wilayah Kabupaten Pati diprediksi masih akan berlanjut hingga Desember 2026. Sedangkan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Oktober 2026.
Hal tersebut diungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Pihaknya meminta warga mewaspadai dampak kemarau panjang terutama wilayah yang menjadi langganan kekeringan.
“Puncak musim kemarau di Kabupaten Pati itu di bulan Agustus, September, dan Oktober 2026 dan ada kemungkinan sampai November Desember. Untuk Jawa Tengah di Pantura Timur ini paling akhir akan menerima hujan,” ungkapnya.
Sementara hingga kini, Martinus mengungkap sejumlah kecamatan di Kabupaten Pati sudah dilanda krisis air.
“Mencakup desa-desa di wilayah Kecamatan Tambakromo, Jakenan, Kayen, Pucakwangi, dan Gabus,” imbuh Martinus.
Untuk membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih, BPBD Pati telah melakukan penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Selain droping air bersih, BPBD Pati juga mendirikan posko pelayanan air bersih di depan kantor BPBD. Posko tersebut menjadi salah satu titik pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan maupun informasi terkait penanganan dampak kekeringan.
Martinus menjelaskan, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan di satu wilayah. BPBD terus melakukan pemantauan terhadap daerah-daerah yang mulai mengalami kesulitan air bersih.
“Kami juga telah mendirikan posko kekeringan dan kebakaran melibatkan institusi TNI-Polri dan PMI, BBWS serta pihak lain,” tandasya.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network






























