BATANG, Lingkarjateng.id – Dinas Pangan, Pertanian, dan Peternakan (Dispaperta) Kabupaten Batang memberikan bantuan 114 pompa air kepada kelompok petani secara bertahap.
Bantuan pompa air tersebut untuk mengamankan pasokan air lahan tani untuk mengurangi risiko gagal panen akibat kemarau panjang.
Berdasarkan laporan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) hingga Agustus 2026, kekeringan telah berdampak ke 16 hektare lahan pertanian di dua kecamatan utama, yakni Banyuputih (1 hektare) dan Gringsing (15 hektare).
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispaperta Batang, Diana Anggraeni, menuturkan bahwa penanganan di tingkat tapak sejauh ini masih tergolong terkendali berkat inisiatif para petani. Petani memanfaatkan pompa air untuk menangani kekeringan secara mandiri.
“Yang paling biasanya Banyuputih. Berarti kan mungkin terkait sumbernya, sumber airnya. Meski demikian, geliat petani dalam menyelamatkan tanaman mereka patut diancungi jempol. Selama air tanah atau celah sumber air permukaan masih terjangkau, para kelompok tani langsung menyedotnya menggunakan mesin pompa,” katanya, Jumat, 28 Agustus 2026.
Untuk mendukung usaha para petani, Dispaperta mulai menggelontorkan 114 unit bantuan pompa air. Pembagiannya diatur bergiliran demi menjaga kerapian administrasi dan proses serah terima.
“Ini 114, tapi bertahap. Mulai hari ini. Biar enggak numpuk, karena kami juga harus tanda tangan berita acara. Kalau orang banyak malah ruwet,” ungkapnya.
Diana juga menegaskan bantuan pompa air akan disebar merata ke wilayah lain yang membutuhkan di skala kabupaten.
“Di satu kabupaten. Karena kalau jumlah segitu banyak ya enggak mungkin cuma di dua kecamatan. Bukan cuma menyalurkan pompa, pemerintah setempat juga menyokong infrastruktur pendukung melalui perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi tersier,” jelasnya.
Selain itu, di Banyuputih dan Gringsing terdapat irigasi yang menopang pengairan pertanian. Pengairan di Kecamatan Gringsing punya cerita tersendiri. Wilayah ini ditopang oleh jaringan irigasi teknis yang saban tahun rutin mengalami proses pengeringan untuk pemeliharaan oleh Dinas PU dan BBWS.
“Kalau di Gringsing itu dia juga irigasinya teknis. Irigasi teknis itu nanti setiap bulan Oktober juga ada pengeringan berkala dari pintunya, dari DPU dan BBWS. Itu sebenarnya tidak bisa dikatakan kekeringan juga, tapi rutin untuk pemeliharaan mereka,” terangnya
Selain menghadapi ancaman kekeringan di lahan seluas 16 hektare, catatan data Dispaperta Batang memperlihatkan kontras lain di lapangan. Setidaknya 511 hektare lahan tani di wilayah Batang juga sempat diterjang banjir. Kondisi cuaca ekstrem ini mendorong sinergi yang makin erat antara pemerintah dan kelompok tani demi menjaga ketahanan pangan daerah.
Editor: Ulfa






























