SALATIGA, Lingkarjateng.id – Musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran lahan di wilayah Kota Salatiga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Salatiga mencatat, sedikitnya tiga kejadian kebakaran lahan terjadi sepanjang Juli hingga awal Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga Sutarto mengatakan, kondisi kemarau tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen serta kebakaran lahan dan hutan.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama membakar sampah sembarangan.
“Selain persoalan ketersediaan air, kondisi kemarau juga meningkatkan risiko gagal panen serta kebakaran lahan dan hutan. Karena itu, masyarakat diimbau tidak membakar sampah maupun daun kering yang berpotensi memicu kebakaran,” kata Sutarto, Kamis, 20 Agustus 2026.
Sutarto menjelaskan, tiga kejadian kebakaran lahan tersebut terjadi di wilayah berbeda. Kebakaran pertama terjadi pada 8 Juli 2026. Lahan bambu seluas sekitar 10×10 meter di Bulu Sari, Kelurahan Tegalrejo, terbakar.
Kemudian pada 24 Juli 2026, kebakaran kembali terjadi di Krekesan, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo. Lahan bambu seluas sekitar 8×5 meter dilaporkan hangus terbakar. Kebakaran lahan berikutnya terjadi pada 2 Agustus 2026 di wilayah Kecandran, Kecamatan Sidomukti. Lahan seluas sekitar 15×5 meter hangus terbakar.
“Rangkaian kejadian tersebut menjadi perhatian BPBD karena kondisi vegetasi yang kering selama musim kemarau membuat api lebih mudah menyebar,” ujarnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Sekar































