Kab.Semarang (lingkarjateng.id) – Kemarau panjang yang terjadi di wilayah Kabupaten Semarang menyebabkan tanaman padi di sawah menguning bahkan mengering karena berkurangnya debit air irigasi yang menurun. Kondisi tersebut, membuat para petani gigit jari.
Seperti yang terlihat di Dusun Pluwang, Desa Wringin Putih, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Para petani setempat pasrah dengan kondisi gagalnya masa tanam itu.
“Mengeringnya tanaman padi di lahan persawahan di Dusun Pluwang, Desa Wringin Putih ini adalah kali kedua yang menyebabkan petani gagal panen karena puso,” ujar Basiroh (61) petani setempat, saat ditemui wartawan pada Rabu (19/8).
Menurut Basiroh, kondisi itu sudah terjadi selama bertahun-tahun. Ia bahkan mengaku sudah beberapa tahun ini selalu mengalami gagal panen di lahan bengkok tersebut.
“Kondisi padi kuning semua, bahkan mengering lebih awal dikarenakan air dari irigasi tidak bisa mengairi lahan sawah bengkok ini,” ungkapnya.
Basiroh merupakan petani penggarap sawah yang sehari-harinya menggantungkan hidupnya di lahan persawahan. Jika mengalami gagal panen seperti ini secara terus menerus setiap tahunnya, kerugian yang ia alami bersama petani lainnya semakin tinggi.
“Ya ruginya banyak sekali, selain tenaga kami rugi di biaya produksi yang sudah dikeluarkan. Nilainya jutaan rupiah, mulai beli benih, pupuk, sewa lahan bengkok, tenaga tanam, dan lainnya. Kini kami harus gagal panen kembali,” ucapnya.
Basiroh menyebutkan, kondisi kering atau menurunnya debit air di irigasi persawahan lokasi tersebut sudah menyusut sejak bulan Juni lalu. “Akhirnya benar-benar kering, tanah di sawah kering semuanya, sehingga tanaman padi kami kuning dan mengering,” ungkap dia.
Disisi lain, Camat Bergas, Slamet Widada saat dikonfirmasi menjelaskan, kaitannya dengan lahan pertanian yang disebabkan mengering atau berkurangnya debit air di irigasi, disebutkannya ada dua hal yang perlu dipahami oleh para petani setempat.
“Yang pertama, jika itu merupakan sawah atau lahan tadah hujan, di saat kemarau seperti ini pasti akan berkurang debit airnya, sehingga perlu dilakukan penanaman tanaman pangan lainnya yang lebih cocok ditanam di lahan tadah hujan di saat kemarau ini,” bebernya.
Namun, jika itu bukan merupakan lahan tadah hujan, maka kebijakan bantuan dan penanganannya ada di Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) maupun di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Semarang.
“Artinya penanganannya ada di dinas terkait, kami hanya bisa bantu melaporkannya saja, dan kami usahakan semaksimal mungkin untuk mencoba membantu menangani masalah ini,” ujarnya.
Pihaknya menyebut sudah memberikan surat edaran dan meminta para kades untuk aktif melakukan pengecekan di wilayah desa masing-masing. Jika ada kekeringan segera melapor untuk segera mendapatkan tindak lanjut dari pihak terkait. ***
Jurnalis : Hesty Imaniar
Editor : Redaksi
































