PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Lahan Kelompok Tani Juwono, Dukuh Ndoplang, Desa Wonosari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan menjadi lokasi uji coba penanaman pakai sistem pertanian modern atau Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PMAAS).
Program PMAAS di Dukuh Ndoplang tersebut melibatkan jajaran penyuluh pertanian, petani, serta Duta Petani Milenial Kabupaten Pekalongan. Petani mempraktikkan tanam benih langsung (tabela) menggunakan alat bantu mekanis sederhana nonmesin buatan petani.
Staf Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan, Danu, mengatakan sistem PMAAS diharapkan bisa menekan biaya tanam sehingga usaha tani lebih efisien.
“Di Desa Wonosari ini kami mencoba alat tersebut dengan harapan nantinya program ini bisa menekan biaya produksi atau menghemat biaya tanam. Harapan kami hasil panen bisa mencapai 10 ton per hektare,” ujarnya, Senin, 3 Agustus 2026.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Pekalongan, Dwi Jayanto, menjelaskan PMAAS merupakan sistem budi daya padi menggunakan metode tanam benih langsung dengan pola tanam rapat. Sistem ini menghilangkan tahapan persemaian dan pindah tanam yang umumnya ada pada penanaman konvensional.
Sistem PMAAS, kata dia, sekaligus menjadi solusi bagi petani terhadap sulitnya mendapatkan tenaga tanam. Pola tanam rapat juga meningkatkan populasi tanaman sehingga diharapkan berdampak pada kenaikan hasil produksi.
“Targetnya bisa mencapai 10 ton gabah kering panen per hektare. Namun, sistem ini harus didukung dengan pemupukan yang lebih baik, penggunaan pupuk organik, serta pengamatan hama dan penyakit yang lebih intensif karena populasi tanaman lebih padat,” jelasnya.
Dwi menambahkan alat tanam yang digunakan dalam sistem tabela dapat dibuat secara mandiri menggunakan bahan sederhana seperti kayu, kaleng, maupun botol bekas.
“Untuk para petani, kami berharap bisa mengadopsi dan mengaplikasikan sistem ini karena memang banyak kelebihannya. Alat untuk aplikasi tabela ini juga bisa dibuat sendiri oleh petani. Seperti yang tadi sudah dipraktikkan oleh teman-teman, alat tersebut merupakan buatan petani sendiri menggunakan konstruksi kayu, kaleng, atau botol bekas. Jadi pembuatannya tidak terlalu rumit dan bisa langsung digunakan,” tuturnya.
Di sisi lain, Ketua Duta Petani Milenial Kabupaten Pekalongan, Handono Warih, menyambut positif penerapan PMAAS sebagai langkah menuju pertanian yang lebih modern dan efisien. Menurutnya, penggunaan alat tanam benih langsung mampu mengurangi biaya produksi, terutama pada awal musim tanam.
“Saat ini memang cukup sulit mendapatkan tenaga kerja untuk menanam bibit padi. Harapannya program ini bisa diterapkan oleh masyarakat agar biaya produksi dapat ditekan,” katanya.
Meski demikian, Handono menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu disempurnakan dalam penerapan PMAAS. Karena itu, pihaknya bersama penyuluh pertanian dan penyuluh swadaya akan terus melakukan pendampingan serta evaluasi agar berbagai kendala di lapangan dapat segera diatasi.
“Kami bersama tim penyuluh dan penyuluh swadaya, termasuk Duta Petani Milenial, akan terus mengawal dan memantau berbagai potensi kelemahan yang ada. Nanti akan kita carikan strategi penyelesaiannya. Menurut kami, program PMAAS ini sudah cukup bagus. Ke depan arahnya akan menuju pertanian presisi yang lebih modern, meskipun memang harus dilakukan secara bertahap. Kami akan terus berkolaborasi dengan semua pihak yang berkepentingan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa
































