SEMARANG, Lingkarjateng.id – Keterbatasan daya tampung SMP negeri di Kota Semarang kembali menjadi sorotan dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Dari total 21.027 lulusan SD, kursi yang tersedia di SMP negeri dan sekolah swasta gratis hanya mencapai 15.365, sehingga ribuan siswa dipastikan tidak dapat tertampung di sekolah negeri.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Muhammad Ahsan, mengatakan sejak awal sekolah negeri memang tidak disiapkan untuk menampung seluruh lulusan SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).
“Pastinya kalau untuk sekolah negeri tidak bisa menampung semua lulusan SD negeri dan swasta. Itu kan jumlah lulusan SD negeri dan swasta. Kalau nanti semua tertampung di negeri, sekolah swasta siswanya siapa,” ujar Ahsan saat memantau hari pertama SPMB, Senin, 22 Juni 2026.
Menurutnya, masyarakat tetap memiliki banyak pilihan pendidikan melalui sekolah swasta yang tersebar di berbagai wilayah Kota Semarang.
“Sekolah swasta sebagai mitra Pemerintah Kota Semarang tetap mendapatkan ruang tersendiri di hati masyarakat. Orang tua tetap punya pilihan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta berbayar,” katanya.
Hingga hari pertama pelaksanaan SPMB, jumlah calon peserta didik yang telah masuk ke dalam sistem mencapai sekitar 12 ribu orang. Angka tersebut diperkirakan masih terus bertambah karena masa pendaftaran dan verifikasi berlangsung hingga 26 Juni mendatang.
Untuk mengantisipasi siswa dari keluarga kurang mampu yang tidak diterima di sekolah negeri, Disdik Kota Semarang juga mengoptimalkan program sekolah swasta gratis yang dapat diakses melalui jalur afirmasi.
Ahsan menjelaskan sistem seleksi akan berjalan otomatis berdasarkan urutan pilihan sekolah yang telah ditentukan peserta.
“Kalau tidak diterima di pilihan satu akan ke pilihan dua. Kalau tidak diterima di pilihan dua akan ke pilihan tiga. Kalau tidak diterima di pilihan tiga akan ke pilihan empat. Semuanya berjalan otomatis dalam sistem,” jelasnya.
Ia memastikan peserta didik dari keluarga tidak mampu tetap memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan secara gratis, baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta gratis yang telah bekerja sama dengan pemerintah.
“Pengalaman di jenjang SD kemarin, semua peserta didik dari kalangan keluarga tidak mampu diterima di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Tidak ada yang tersisa sama sekali. Itu yang menjadi tujuan kami,” tegasnya.
Tingginya minat masyarakat terhadap SMP negeri juga terlihat dari membludaknya warga yang mendatangi Posko Pengaduan SPMB di Kantor Dinas Pendidikan Kota Semarang. Hingga siang hari, lebih dari 350 orang tercatat mengurus berbagai persoalan pendaftaran.
Sebagian besar aduan berkaitan dengan data lulusan SD dari luar daerah yang belum masuk nominasi sistem, pendaftaran melalui jalur mutasi, hingga ketidaksesuaian data kependudukan yang belum tersinkronisasi.
Meski demikian, Dinas Pendidikan menilai tingginya jumlah pendaftar dan pengunjung posko mencerminkan besarnya perhatian masyarakat terhadap proses penerimaan siswa baru tahun ini.
“Saya membaca ini sebagai bentuk antusiasme orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SMP-SMP Kota Semarang, baik negeri maupun swasta,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid
































