Blora (lingkarjateng.id) – Banyak infrastruktur jembatan di Kabupaten Blora yang rusak dan butuh perbaikan. Kali ini jembatan penghubung Desa Bajo Kecamatan Kedungtuban dan Desa Cabean Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora juga ambrol.
Dari pantauan di lapangan, jembatan sepanjang kurang lebih 30 meter tersebut sisi pengamanan hampir roboh ke sungai, sementara badan jembatan amblas. Warga terpaksa memasang kayu agar akses kedua wilayah tidak terputus dan lumpuh.
Salah seorang warga, Katiro ( 57 ) menuturkan, rusaknya jembatan diduga akibat guyuran hujan lebat dan hantaman derasnya arus sungai yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Hujan selama kurang lebih 8 jam berturut-turut ini membuat debit air sungai naik dan arus menjadi deras. Tidak ada yang mengetahui ambrolnya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah sungai. Ternyata jembatan amblas,” kata Katiro, Rabu (17/6).
Menurutnya, kondisi tersebut sangat membahayakan bagi warga. Karena merupakan jalur viral, akhirnya warga berinisiatif memasang kayu agar kendaraan roda dua tetap bisa melintas.
“Kondisi jembatan yang rusak serta minimnya penerangan membuat ruas ini sangat berbahaya bagi pengendara dimalam hari,” terangnya.
Sementara itu, salah seorang perangkat desa, Toha Maksun ( 56 ), menjelaskan, selain hujan dan arus deras usia jembatan sudah tua sekitar 37 tahun, tepatnya mulai dibangun sekitar tahun 1989 sampai tahun 2026 sekarang.
“Kemungkinan besar usia jembatan tersebut dianggap ikut andil menyebabkan ambrolnya jembatan. Kayu-kayunya kan banyak yang sudah lapuk. Tiang penyangganya pun tidak kuat menahan derasnya arus sungai. Akhirnya jembatan ini pun amblas,” terangnya.
Menurutnya, sebelumnya jembatan tersebut biasa dilewati pengendara sepeda motor, roda empat, dan siswa yang akan sekolah, serta petani yang membawa hasil pertanian.
“Setelah jembatan rusak, warga terpaksa memutar sekitar 5 kilometer. Karena memang tidak ada jalan alternatif lain,” ujarnya.
Bahkan gara-gara jembatan tersebut ambrol, para siswa memilih jalan yang lain, daripada harus memutar jauh. Karena ketinggian air sungai sampai 2 meter lebih.
“Tidak ada jalan lain untuk dilintasi. Makanya siswa harus melewati jalan darurat atau memilih jalan lain untuk pergi ke sekolah. Daripada telat tiba disekolah ya mereka terpaksa lewat jalan darurat yang dibuat dari kayu dan bambu (diatas jembatan yang ambrol),” pungkasnya.***
Jurnalis : Hanafi
Editor : Fian

































