KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Warga Dusun Krajan, Desa Wringinputih, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, melakukan aksi blokade jalan sebagai bentuk protes terhadap kerusakan jalan yang diduga dipicu aktivitas kendaraan berat milik perusahaan tambang batuan andesit PT Mahidara Artha Sangkara.
Aksi tersebut dilakukan dengan menumpuk batu dan menanam pohon pisang di sepanjang ruas jalan yang mengalami kerusakan parah. Warga menilai kondisi jalan tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Salah seorang warga Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, Karminto (40), mengaku pernah mengalami kecelakaan saat melintasi jalan tersebut. Menurutnya, kondisi jalan yang dipenuhi lubang membuat pengendara harus ekstra hati-hati.
“Iya pernah jatuh, bahaya sih jalan ini karena selain berlubang juga rusak parah, itu di parit juga banyak beton yang rusak,” katanya, Kamis sore, 11 Juni 2026.
Ia menilai lalu lalang truk pengangkut material tambang dengan muatan besar menjadi salah satu penyebab kerusakan jalan yang semakin parah dalam beberapa waktu terakhir.
“Truknya itukan besar-besar ya, muatannya juga material tanah dan batu, bahaya sekali untuk warga sekitar dan pengendara pengguna jalan, makanya kalau lewat sini selalu hati-hati sekali,” ujarnya.
Karminto berharap pemerintah daerah bersama pihak perusahaan segera mengambil langkah perbaikan mengingat jalan tersebut merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten Semarang.
“Ya harapannya segera diperbaiki, karena bahaya sekali, sudah jalannya sempit yang lewat truk-truk muatan besar semua disini, apalagi ini permukiman padat, banyak perusahaan juga disini yang otomatis banyak pekerja juga yang melintasi jalan ini,” harapnya.
Keluhan serupa disampaikan Ketua RT 05 RW 01 Dusun Krajan, Winarko. Ia menyebut dampak aktivitas truk tambang tidak hanya merusak jalan, tetapi juga menimbulkan debu yang mengganggu kenyamanan warga.
“Sangat berdebu sekali ketika truk-truk ini melintas, apalagi dalam sehari bisa 100 lebih truk bermuatan material yang kadang tidak ditutup terpal itu melintas di jalan ini. Terus sudah jelas, jalannya rusak,” tegasnya.
Menurut Winarko, aksi penumpukan batu di sepanjang jalan rusak merupakan inisiatif warga yang sudah lama merasa dirugikan akibat kondisi tersebut. Selain sebagai bentuk protes, batu-batu tersebut juga berfungsi memperkuat talud di sisi jalan yang mulai mengalami kerusakan.
“Inisiatif warga, warga berswadaya membeli batu-batu dan menaruhnya di samping-samping di sepanjang jalan yang rusak ini. Selain untuk memblokade jalan, tujuan lain kami taruh batu-batu itu di samping-samping jalan ini karena juga sebagai pengamanan talud di sepanjang jalan ini,” bebernya.
Ia berharap aksi tersebut dapat mendorong respons cepat dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah untuk segera memperbaiki ruas jalan yang rusak sepanjang lebih dari 500 meter.
Winarko menjelaskan ruas jalan yang mengalami kerusakan melintasi lima wilayah RT di Dusun Krajan, yakni RT 01, RT 02, RT 04, RT 05, dan RT 07.
Sebagai informasi, PT Mahidara Artha Sangkara menjalankan aktivitas penambangan batuan andesit berdasarkan Persetujuan Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/24049655 Tahun 2024. Lokasi tambang berada di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Material andesit yang diproduksi perusahaan tersebut diketahui digunakan untuk mendukung pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Jragung yang berada di Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid






























