KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang tengah menyelesaikan pembangunan jembatan penghubung Desa Duren dan Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, yang sempat ambrol akibat derasnya aliran sungai pada Februari 2026. Infrastruktur tersebut kini memasuki tahap akhir pengerjaan.
Jembatan yang menjadi akses utama warga menuju pusat pemerintahan Kecamatan Sumowono itu sempat terputus dan berdampak pada sekitar 800 jiwa. Kondisi tersebut bahkan membuat aktivitas warga sempat terganggu sebelum dibangun jembatan darurat oleh pemerintah daerah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, mengatakan pembangunan jembatan baru sudah hampir selesai dan saat ini memasuki tahap finishing.
“Perlu diketahui, jembatan penghubung Desa Duren dengan Desa Pledokan di Sumowono ini merupakan jalur vital untuk aktivitas perekonomian di Desa Duren,” katanya, Minggu, 7 Juni 2026.
Menurut Alexander, pemerintah daerah bergerak cepat melakukan penanganan sesuai arahan Bupati Semarang mengingat fungsi jembatan tersebut sangat vital bagi mobilitas warga.
“Penyelesaian yang kami sarankan, ini tentu atas saran dari Bapak Bupati Semarang supaya kami bisa membangun kembali jembatan yang kemarin ambrol,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, pembangunan jembatan baru tersebut membutuhkan waktu sekitar 75 hari dan saat ini progresnya telah mencapai sekitar 95 persen. Pekerjaan tersisa hanya tahap penyelesaian akhir.
“Untuk progres pengerjaannya saat ini sudah di angka 95 persen, tersisa pengerjaan finishing saja, jadi estimasinya akan selesai kurang lebih satu minggu lagi dari 75 hari itu,” jelasnya.
Alexander memperkirakan, jika proses pengeringan beton berjalan sesuai rencana, jembatan sudah dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat pada pertengahan Juni 2026.
“Kan kalau saat ini sementara waktu hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saja, mobil belum bisa, karena betonnya belum siap,” sambungnya.
Ia menambahkan, setelah jembatan ambrol, pemerintah bersama masyarakat sempat membangun akses darurat agar mobilitas warga tetap berjalan, meski hanya dapat dilalui sepeda motor.
“Dan kami juga mencoba melakukan penyelesaiannya, dan ketika itu sudah selesai maka jembatan darurat kami alihkan di sisi kiri jika mau ke arah Desa Duren, karena memang hanya bisa digunakan untuk roda dua saja waktu jembatan darurat itu selesai dikerjakan,” paparnya.
Terkait pendanaan, Alexander menjelaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut menggunakan anggaran penanganan darurat bencana dari APBD Kabupaten Semarang melalui pos Belanja Tidak Terduga (BTT) dengan nilai sekitar Rp660 juta.
“Kegiatannya ini adalah penanganan darurat bencana, anggarannya bersumber dari anggaran tanggap darurat pada pos Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Kabupaten Semarang dngan total nilai sekitar Rp660 juta dengan penyedia CV Pangudi Mulya,” tukasnya.
Sementara itu, Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, mengatakan jembatan tersebut sebelumnya rusak akibat bencana longsor dan meluapnya aliran sungai akibat tingginya curah hujan.
“Jadi beberapa waktu lalu wilayah Desa Duren itu dilanda bencana alam, mulai dari tanah longsor hingga meluapnya aliran sungai, dan menyebabkan jembatan ini ambrol,” terangnya.
Ia menegaskan, jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses utama warga untuk beraktivitas menuju pusat kecamatan, sehingga keberadaannya sangat vital bagi kehidupan masyarakat.
Menurut Ngesti, Pemkab Semarang telah melakukan survei bersama unsur Forkopimda dan perangkat teknis untuk mempercepat proses pembangunan kembali jembatan tersebut.
Ia berharap, setelah jembatan selesai, aktivitas ekonomi warga seperti pertanian dan peternakan dapat kembali normal karena akses transportasi sudah bisa dilalui kendaraan roda empat.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid






























