Selama bertahun-tahun, katarak identik dengan proses penuaan. Banyak orang menganggap penyakit ini hanya menyerang mereka yang berusia lanjut. Namun dalam praktik medis modern, dokter mata semakin sering menemukan kasus katarak pada usia produktif, bahkan pada pasien berusia 20 hingga 40 tahun. Kondisi ini dikenal sebagai mata katarak usia muda atau early-onset cataract.
Katarak terjadi ketika lensa mata yang seharusnya jernih menjadi keruh akibat perubahan struktur protein di dalamnya. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tidak dapat difokuskan dengan baik ke retina sehingga penglihatan menjadi buram, berkabut, atau silau. Menurut data dari National Eye Institute Amerika, katarak terbentuk ketika protein-protein pada lensa mata menggumpal sehingga menghalangi cahaya yang masuk ke mata.
Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami katarak pada usia yang relatif muda?
Diabetes Menjadi Faktor Risiko Terbesar
Salah satu penyebab paling kuat dari katarak usia muda adalah diabetes mellitus.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat memicu perubahan metabolisme pada lensa mata. Glukosa berlebih diubah menjadi sorbitol yang menumpuk di dalam lensa. Akumulasi zat ini menyebabkan stres osmotik yang mempercepat kerusakan serat-serat lensa.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami katarak mata dibandingkan populasi umum. Bahkan pada beberapa kasus, katarak dapat berkembang lebih cepat sehingga muncul sebelum usia 50 tahun.
Baik National Eye Institute maupun Mayo Clinic Amerika menempatkan diabetes sebagai salah satu faktor risiko utama pembentukan katarak.
Penggunaan Obat Steroid Jangka Panjang
Faktor berikutnya yang sering luput dari perhatian adalah penggunaan obat golongan kortikosteroid.
Steroid banyak digunakan untuk mengatasi asma, alergi berat, penyakit autoimun, hingga gangguan kulit tertentu. Penggunaan jangka panjang, terutama tanpa pengawasan dokter, diketahui dapat mempercepat pembentukan katarak.
Menurut Mayo Clinic, penggunaan kortikosteroid dalam waktu lama merupakan salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya katarak.
Katarak akibat steroid biasanya berkembang secara perlahan sehingga banyak pasien tidak menyadari adanya penurunan kualitas penglihatan sampai kondisi menjadi cukup parah.
Paparan Sinar Ultraviolet Berlebihan
Indonesia merupakan negara tropis dengan tingkat paparan sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun. Sayangnya, kebiasaan beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan mata dapat meningkatkan risiko kerusakan lensa.
Paparan radiasi ultraviolet (UV) dalam jangka panjang memicu proses oksidatif yang merusak protein lensa mata. Kerusakan tersebut bersifat kumulatif dan dapat mempercepat pembentukan katarak.
National Eye Institute menyebutkan bahwa terlalu lama berada di bawah sinar matahari tanpa perlindungan yang memadai merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat pembentukan katarak.
Karena itu, penggunaan kacamata hitam yang memiliki perlindungan UV bukan sekadar aksesori gaya hidup, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan mata.
Kebiasaan Merokok
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa merokok tidak hanya merusak paru-paru dan jantung, tetapi juga mata.
Asap rokok mengandung ribuan senyawa kimia yang meningkatkan produksi radikal bebas di dalam tubuh. Ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan menyebabkan stres oksidatif yang dapat merusak struktur protein lensa.
Mayo Clinic dan National Eye Institute sama-sama mencantumkan merokok sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan katarak.
Menariknya, sejumlah studi menunjukkan bahwa risiko tersebut meningkat seiring lamanya seseorang merokok dan jumlah rokok yang dikonsumsi setiap hari.
Cedera atau Trauma pada Mata
Tidak semua katarak disebabkan oleh penyakit metabolik atau faktor gaya hidup. Cedera mata juga dapat menjadi penyebab utama.
Benturan keras saat berolahraga, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, atau paparan benda tajam dapat merusak struktur lensa secara langsung. Pada beberapa kasus, katarak bahkan dapat muncul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah cedera terjadi.
National Eye Institute menjelaskan bahwa cedera mata serius merupakan salah satu faktor yang dapat memicu pembentukan katarak pada usia yang lebih muda.
Faktor Genetik dan Keturunan
Tidak sedikit pasien muda yang mengalami katarak meskipun tidak memiliki diabetes, tidak merokok, dan tidak pernah mengalami cedera mata.
Dalam kondisi seperti ini, faktor genetik sering kali berperan.
Beberapa kelainan genetik dapat menyebabkan struktur protein lensa lebih rentan mengalami kerusakan. Riwayat keluarga dengan katarak usia dini juga diketahui meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi serupa.
Menurut National Eye Institute, riwayat keluarga merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya katarak.
Konsumsi Alkohol Berlebihan
Konsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko katarak.
Alkohol dapat meningkatkan stres oksidatif dan mengganggu mekanisme perlindungan alami tubuh terhadap kerusakan sel. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan lensa mata.
Mayo Clinic memasukkan konsumsi alkohol berlebihan sebagai salah satu faktor risiko yang berhubungan dengan perkembangan katarak.
Operasi dan Penyakit Mata Sebelumnya
Beberapa penyakit mata tertentu, seperti peradangan kronis pada mata, glaukoma, maupun tindakan operasi mata sebelumnya, dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya katarak lebih cepat dibandingkan proses penuaan normal.
Menurut National Eye Institute, operasi mata tertentu dan penyakit mata yang telah ada sebelumnya termasuk faktor yang diketahui berhubungan dengan pembentukan katarak.
Gaya Hidup Modern dan Stres Oksidatif
Dalam beberapa dekade terakhir, para peneliti juga menyoroti peran stres oksidatif sebagai mekanisme biologis utama yang mempercepat kerusakan lensa.
Pola makan rendah antioksidan, kurang konsumsi buah dan sayur, paparan polusi udara, kurang tidur, hingga penyakit metabolik dapat meningkatkan akumulasi radikal bebas di dalam tubuh.
Meskipun faktor-faktor ini tidak selalu menjadi penyebab langsung, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut dapat mempercepat proses degenerasi protein lensa sehingga katarak muncul lebih dini.
Jangan Abaikan Gejala Awal Katarak
Pada usia muda, gejala katarak sering disalahartikan sebagai gangguan refraksi biasa. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Penglihatan buram atau berkabut.
- Mata lebih sensitif terhadap cahaya.
- Silau saat mengemudi malam hari.
- Warna terlihat lebih pudar.
- Sering mengganti ukuran kacamata dalam waktu singkat.
- Muncul lingkaran cahaya (halo) di sekitar lampu.
Jika gejala-gejala tersebut muncul, pemeriksaan mata menyeluruh sangat dianjurkan agar penyebabnya dapat diketahui sejak dini.
Katarak pada usia muda bukanlah kondisi yang dapat dianggap sepele. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang mempertahankan kualitas penglihatan dan menentukan waktu penanganan yang tepat. Jika Anda mulai merasakan gejala penglihatan yang tidak normal atau memiliki faktor risiko seperti diabetes, penggunaan steroid jangka panjang, maupun riwayat keluarga dengan katarak, pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan di KMN EyeCare. Sebagai salah satu pusat layanan kesehatan mata di Indonesia, KMN EyeCare menyediakan pemeriksaan dan penanganan katarak dengan standar medis internasional serta teknologi diagnostik dan bedah yang modern.
Referensi :
- National Eye Institute (NEI), U.S. Department of Health and Human Services
Causes of Cataracts – Menjelaskan mekanisme terbentuknya katarak, faktor risiko, serta penyebab katarak pada usia muda. - Mayo Clinic
Cataracts: Symptoms and Causes – Menjelaskan gejala, penyebab, faktor risiko, serta hubungan katarak dengan diabetes, steroid, trauma mata, dan faktor genetik. - World Health Organization (WHO)
Blindness and Vision Impairment – Menyajikan data global mengenai gangguan penglihatan dan katarak sebagai salah satu penyebab utama kebutaan yang dapat ditangani.






























