SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang mengungkapkan penyebab amblesnya badan jalan di pinggir Sungai Silandak di kawasan Jembawan I, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat.
Kepala Disperkim Kota Semarang, Murni Ediati, menyatakan amblesnya jalan tersebut dipicu kondisi tanggul yang miring sehingga memunculkan rembesan dan mempercepat pengikisan pondasi talud oleh arus sungai.
“Aliran Sungai Silandak menggerus pondasi talud sehingga tanah di bawah badan jalan ikut tertarik. Kondisi itu yang menyebabkan jalan mengalami amblas,” katanya saat meninjau lokasi, Jumat, 8 Mei 2026.
Berdasarkan data lapangan, tanggul yang jebol memiliki panjang sekitar 41 meter. Sementara itu, badan jalan di sekitar lokasi mengalami ambles hingga kurang lebih dua meter.
Ia menyebut kerusakan itu kini ditangani secara bersama oleh sejumlah instansi, meliputi Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Disperkim Kota Semarang, Dinas Perikanan, serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
Menurutnya, penanganan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan perbaikan tanggul sebelum dilakukan pemulihan badan jalan.
Murni mengatakan BBWS bersama DPU akan fokus memperkuat struktur tanggul, sedangkan Disperkim bertugas memperbaiki akses jalan warga setelah kondisi talud dinyatakan aman.
“Kami terus berkoordinasi dengan BBWS agar perbaikan talud bisa segera dilakukan. Setelah itu baru dilanjutkan pengaspalan jalan agar aktivitas warga kembali aman dan nyaman,” ujarnya.
Di tengah proses penanganan, muncul dugaan dari warga terkait keberadaan ikan sapu-sapu yang disebut-sebut turut memperparah kondisi tanggul karena membuat lubang di bantaran sungai.
Menanggapi hal tersebut, Dinas Perikanan Kota Semarang langsung melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian.
Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Soenarto, membenarkan adanya ikan sapu-sapu di Sungai Silandak. Namun, jumlahnya dinilai masih normal dan belum masuk kategori mengkhawatirkan.
“Memang ada ikan sapu-sapu di lokasi, tetapi belum dalam kondisi over populasi seperti yang terjadi di beberapa daerah lain,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Kabid Pengelolaan Pembudidayaan Ikan Dinas Perikanan Kota Semarang, Rita Muflikatun Nu’amah. Ia menilai faktor utama kerusakan lebih dipengaruhi karakter arus sungai yang berputar di titik tertentu hingga menggerus tanah di bawah konstruksi tanggul.
Rita menambahkan, debit Sungai Silandak meningkat cukup deras saat curah hujan tinggi karena menerima aliran air dari kawasan Pasadena hingga Babankerep, Kecamatan Ngaliyan.
“Arus sungainya berbelok dan berputar sehingga terus menggerus tanah di bawah tanggul. Itu yang menyebabkan muncul rongga hingga akhirnya tanggul jebol dan badan jalan ikut ambles,” katanya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid






























