SALATIGA, Lingkarjateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Salatiga mencatat tren penurunan dampak kekeringan dalam dua tahun terakhir. Meski demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga tetap memperkuat langkah antisipasi dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) penanganan kekeringan menghadapi musim kemarau 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga, Sutarto, mengungkapkan bahwa pada 2024 saat fenomena El Nino, jumlah warga terdampak kekeringan mencapai 8.764 jiwa. Angka tersebut turun signifikan pada 2025 menjadi 2.466 jiwa.
“Secara data memang ada penurunan, namun potensi kekeringan tetap harus diwaspadai karena faktor perubahan iklim yang tidak menentu,” ujarnya, Rabu, 6 Mei 2026.
Meski tren menurun, imbuhnya, BPBD tetap memetakan sejumlah wilayah rawan kekeringan, terutama di Kecamatan Argomulyo.
Sutarto mengungkapkan bahwa Kelurahan Kumpulrejo dan Randuacir menjadi titik paling terdampak, khususnya pada lahan pertanian sawah. Wilayah lain seperti Noborejo, Bugel, dan Kecandran juga masuk dalam kategori rawan dan membutuhkan suplai air bersih melalui tandon.
Menurut Sutarto, indikator wilayah rawan kekeringan meliputi terbatasnya jaringan pipa PDAM, penurunan debit air, kondisi dataran tinggi, serta minimnya vegetasi penyerap air.
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan pada ketersediaan air bersih, tetapi juga merambah ke pertanian, kesehatan, hingga potensi kebakaran lahan.
Di sektor pertanian, kondisi tanah yang mengeras menyebabkan perubahan pola tanam dan meningkatkan risiko gagal panen, terutama di wilayah pinggiran seperti Tingkir dan Argomulyo.
Sementara di sektor kesehatan, peningkatan debu memicu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), ditambah suhu ekstrem yang terjadi selama musim kemarau.
“Potensi kebakaran lahan juga meningkat, terutama di wilayah lereng dan kawasan penyangga hutan,” katanya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa































